SELAMAT JALAN DR IWAN ASMARA ACHMAD
Selesai sholat Idul Adha 2007 di Mesjid Baiturrachim Kav Marinir, Drg Linda Tato sahabatku menghampiriku mengatakan “Dewi sahabatmu sudah enggak ada” tertegun aku mendengarnya karena Kakak/sahabat/teman kelompokku di S3 dr. Iwan Asmara Achmad pergi untuk selama-lamanya.
Aku minta Linda sepupu dr Iwan untuk mengirim sms berita duka untuk ku forward kepada teman-teman di Program Pasca S3 UNJ yang mengenal dr. Iwan …sayang mereka sedang di luar kota, libur panjang sehingga tidak bisa melayat….
Saat aku membantu panitia Qurban, pa harley dari Bogor, bu Nani dari Bekasi dan dr. nanto meneleponku bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah duka.
Aku segera pergi dengan Irfan anakku karena suamiku sedang membantu panitia Qurban dan karena mereka semua tersesat aku yang lebih dahulu sampai. Tak lama dr. nanto beserta mbak titie istrinya datang. Jenazah dr Iwan akan disholatkan di mesjid depan rumahnya aku dan mbak titie berdiri di depan Mobil Jenazah mencari isterinya. Tak lama jenazah masuk mobil jenazah dan dengan memegang mbak Titie aku memandang jenazah dan berbicara dengan menitikan air mata “ dr Iwan selamat jalan… kehidupan di dunia telah selesai ..kita tidak bisa bersama-sama lagi..dr iwan akan menemui sang khalik.. semoga amal ibadah dokter diterima oleh Allah SWT”
Dr Nanto mengajak aku dan Irfan mengantarkan ke pemakaman dengan mobilnya, mobilku di parkir di jl cikajang … diperjalanan aku dan dr Nanto mengenang dr Iwan yang periang dan lucu karena memang kami selalu duduk bertiga dan selalu satu kelompok dalam membuat paper dan presentasi di semester 1.
Teringat saat akan presentasi mata kuliah Prof Napitupulu, dr Nanto belum datang aku akan mengcopy bahan presentasi.. dr Iwan mengejarku “Dewi kita menunggu dr Nanto yang menguasai pedagogi saya tidak mau presentasi sebelum ada dr. nanto.”. saya mengatakan “dr Iwan ini aneh sering presentasi bedah urology di luar negeri di forum ahli bedah international tetapi untuk prof napitupulu koq gak mau”… dr Iwan menjawab jenaka “ kalau untuk bedah urology saya siap presentasi karena bidang saya ..tapi kalau pedagogik ini saya belum siap… kita harus sama-sama presentasi”…akhirnya kami saling mendorong seperti anak-anak kecil untuk masuk ruang kelas …
Aku merasa sangat kehilangan dr Iwan.. karena selama di semester S1 aku selalu duduk disebelah beliau dan selalu ngobrol di luar kelas berdua. ..teman-teman semua tahu kalau kami dr Iwan, dr nanto dan aku adalah tiga serangkai yang sangat kompak….setiap akan ujian ..kami belajar bersama di Perpustakaan Fakultas Kedokteran UI .. dr Iwan selalu membanggakan perpustakaan itu… karena aku yang paling muda dan menguasai teknologi mereka sangat manja padaku khususnya dr Iwan selalu ribut minta tolong dicarikan bahan-bahan dari internet.. sehingga beliau siap untuk datang ke rumah dan ke kantor… temanku di Kantor Pusat sudah mengenal beliau…kata-kata yang sering diucapkannya adalah “ Dewi kamu kan rajin dan baik hati..jadi tolong dong carikan bahan di internet…tolong ya”.. dan aku pun selalu memenuhi permintaannya …
Kenangan lainnya adalah berbuka puasa bersama di warung UNJ… diawal bulan puasa beliau selalu membawa bekal dari rumah dan berbuka sendiri di kelas sementara aku dan teman-teman makan di warung… seminggu kemudian beliau minta diajak makan di warung.. saya katakan “ dr iwan kan dokter senior yang top jangan makan di warung nanti sakit perut atau malu kalau orang lain tahu makan di warung.”…, namun beliau memaksa “gak apa-apa makan di warung asalkan bisa tertawa-tawa bersama kamu “…akhirnya beliau masuk rumah sakit karena diare.. tapi setelah sehat ikut makan di warung lagi bersama siti dan aku… itulah dr Iwan yang jenaka walaupun beliau sudah senior tetapi denganku selalu bersikap seperti anak nakal…ada kata-kata yang selalu terngiang ialah “ dewi saya melihat kamu begitu faith…periang, pekerja keras, pantang menyerah, selalu menolong orang lain.. saya salut dan senang berteman dengan kamu…. saya mungkin tidak bisa menjadi Doktor, saya tidak akan dapat menyelesaikan program ini” … saat itu aku selalu menjawab.. “dr iwan kita akan selalu saling tolong menolong..kita akan sama-sama menyelesaikan program ini.. mungkin dr Iwan akan lebih dulu selesai mengingat dokter lebih pandai dan hebat,.”.. lalu beliau menghibur saya seperti seorang kakak dan seorang sahabat …demikian pula saat saya menceritakan masalah-masalah yang ada di Kantor..beliaupun menceritakan masalahnya sehingga kami saling menghibur…waktu di kampus digunakan untuk saling bercerita….
Di rumah, aku duduk di teras dan memandang hujan yang turun.. aku merasa sangat sedih dan merasa sangat kehilangan ..aku terbayang-bayang dr Iwan.. persahabatan kami amat singkat tetapi indah walaupun kami berbeda jauh dalam usia, profesi, pengalaman maupun status .. tetapi kami dapat bersahabat dan tertawa-tawa bersama…teman-teman sekelas mengerti persahabatan kami karena kami di tempat kuliah selalu bersama-sama maklum, kesibukanku dan dr Iwan yang padat menyebabkan kami hanya bisa bersama-sama di kampus pada semester 1…di semester 2 aku jarang bertemu dan di semester 3 ini aku hanya dapat bertemu beliau 1 x seminggu yaitu hari jum’at dan walaupun hanya bertemu 2 jam..aku dan beliau selalu bercerita ramai…aku selalu mengatakan “dr iwan kenapa sih sekarang koq gendut “ beliau menjawab “saya naik 10 kg karena mumpung masih bisa makan” aku selalu meledek…”dokter senang makan sih ..tahan dong..punya diabetes makannya banyak..dokter koq bandel sih “ dll.. lalu beliau ter-tawa2 dengan statementku..
Hari Jumat di kampus ..sehari sebelum beliau masuk rumah sakit karena serangan jantung ..beliau memegang pergelangan tanganku dan memandangku dengan aneh ..beliau mengatakan..”Dewi saya tidak akan bisa menyelesaikan program doktor ini, saya berdoa semoga kamu sukses..tolong katakan kepada sahabatmu sepupu saya drg Linda Tato agar datang besok Sabtu ke pertemuan keluarga yaa”…..ternyata apa yang dikatakannya menjadi kenyataan, hari ini 20 desember 2007…aku mengantarnya ke tempat peristirahatan yang terakhir bersama pa harley, bu nani dan dr. Nanto….dr Iwan tidak akan bisa menyelesaikan program S3….dr Iwan Selamat Jalan… dokter sangat terbuka ….persahabatan kita sangat singkat tetapi berarti bagiku karena banyak pelajaran yang dapat aku petik dari pembicaraan kita”…aku pernah memberikan Al-Qur’an dan terjemahannya kepada dr Iwan untuk dibaca di waktu senggang..agar beliau memahami bahwa kehidupan manusia memang singkat dan milik sang khalik.. kita tidak tahu waktu kita akan dipanggil pulang oleh sang khalik dan dr Iwan telah pulang lebih dulu… semoga dr Iwan berbahagia dikehidupan fana …
Kehilangan dr Iwan Asmara Achmad sengaja kutuliskan di website ku …karena beliau memang telah memberikan persahabatan yang murni…yang akan selalu kukenang..
Aku teringat dr Soenanto Roewijoko di perjalanan menuju makam mengatakan berulang-ulang…sahabat kita yang baik telah pergi…sahabat kita telah pergi…Selamat jalan sahabat….


ferry sinaga says:
Hai apa kabar Mbak Dewi,,
Maaf banget aku yang terus menyibukkan diri karna tinggal di kampung,,jadinya sering ketinggalan informasi,,
Oh iya,,aku sering lho mbacain tulisannya mbak Dewi,,trus setiap ngebaca pasti trus keinget saat harus berjuang di kuliahan,,
Ayo mbak kita terus berjuang yahh,,,
September 9th, 2009 at 1:16 am
dewi pm says:
Mas Ferry apa kabar? wah malu rasanya tulisan sederhanaku dibaca Mas Ferry..
gimana kabarnya Medan? kalau ke Jakarta call dong..yg masih sering kontak aku Pa Herly beliau lagi pendidikan buat marsma (hebat kan teman2 kita), Pa Cheppy, Pa Sijabat, Pa Ketut, Pa Maman..semua sudah seminar proposal..aku masih stag karena judulku masih ditolak promotorku Prof Made ada variable yg ga cocok..aku belum sempat lagi maklum sekarang sibuk banget..waktu ke Makasar aku mampir ke Pa Sahban beliau sudah seminar hasil…
Jangan khawatir walaupun Mas ferry jauh kita akan selalu bersama menggapai cita2 hehe..
Met Kerja yaa…sukses utk Mas Ferry..
September 9th, 2009 at 5:53 am