February 27th, 2008
Suatu saat kita mengalami perasaan membutuhkan tempat yang nyaman (comfort zone) untuk bercerita dalam bentuk diary yang tersembunyi tidak ingin diketahui oleh siapapun… dunia maya atau blog memang diciptakan untuk bercerita… apapun dapat ditulis di blog… namun negatifnya suatu ketika seseorang sedang browsing/searching tanpa sengaja menemukan blog seseorang dan tanpa disadari orang tersebut akan membaca diary di dunia maya tersebut maka akan terbukalah diary tersebut…
Menurut temanku sesama blogger (pemilik website) ; diary pada blog adalah bersifat pribadi , orang lain tidak dapat menuntut melalui jalur hukum si empunya blog apabila nama orang tersebut tercantum pada blog pribadi …justru orang yang menuntut melalui jalur hukumlah yang dapat dituntut karena telah membaca tulisan pribadi si empunya blog …blog adalah wilayah pribadi seperti blog Maia dll banyak mencurahkan isi hatinya, perasaan terlukanya tetpi ada juga blog yang bukan wilayah pribadi seperti kel Nugraha dll menceritakan kegiatan keluarganya atau blog gimilham dll, ada pula blog yang diperuntukan untuk umum yaitu siempunya blog mempersilahkan pembaca blog untuk mampir ke blognya dan subscribe isi blognya seperti blog dr Eric Tapan ; solahnawadi, Wilmar Witular (sang ketua Blogger Indonesia), Indra dll
Bagiku blogku adalah tempat yang nyaman (comfort Zone) karena disinilah aku dapat mengeluarkan isi hatiku dengan bebas tanpa aku harus bergosip ria … bila aku bercerita kepada seseorang tentang ketidak baikkan seseorang maka aku takut telah berlaku shuuzhon.. tetapi diblog pikiran shuuzhon bisa berubah menjadi khusnuzhon… karena dengan melepas pikiran melalui kata-kata… hati akan menjadi plong dan pikiran menjadi lebih jernih… karena kata-kata merupakan suatu pelepasan semua emosi yang ada…..
Blogku telah diketahui oleh beberapa orang… seorang temanku yang sudah menjadi boss mengatakan kepadaku bahwa telah membaca blogku… kutanyakan dari mana dapat mengetahui blogku….boss menjawab “ emangnya gue gak ngerti internet dan gak bisa cari” …aduh sungguh aku malu bila seseorang membaca blogku… saat kutanyakan “apakah membaca seluruh isinya?” sang boss menjawab “ya gue baca semuanya”…. Saat itu aku hanya terdiam kutatap sinar matanya …arti sinar matanya sulit kubaca… kutanyakan lagi “bagaimana pendapatnya apakah harus ku delete/edit” boss menjawab “ga usah” ….
Sampai jam 3 pagi aku tidak bisa tidur… aku bingung apakah kulanjutkan bercengkarama di comfort zone ini atau aku pindah tempat …. Comfort zone ini telah ku sewa selama 2 tahun… dan hatiku betul-betul tertolong oleh adanya comfort zone ini yang merupakan terapi terbaik bagiku… bila comfort zone ini kurubah/delete/edit maka comfort zone ini bukan menjadi wilayah pribadi tetapi menjadi wilayah yang semu..tidak natural… sementara blog diciptakan untuk semua orang yang mempunyai hobby menulis boleh menulis yang natural..atau menulis kata hatinya dengan bebas …atau menulis yang tidak bermutu …sehingga terdapat macam-macam blog yaitu ada blog yang penuh dengan isi hati… ada blog yang damai…ada blog membagi ilmu pengetahuan dan ada pula blog yang rusuh…semua pernah dibahas dalam pertemuan blogger .
Biarlah comfort zone ini tetap menjadi pelabuhan hatiku… pelabuhan ideku… karena aku membutuhkan suatu pelabuhan yang damai…pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal lain termasuk kapal hatiku…toh nantinya view tulisan-tulisan lama akan hilang apabila aku membuat tulisan-tulisan baru.. sehingga untuk menghilangkan tulisan lama aku harus membuat tulisan baru yang banyak….
Apabila seseorang secara tidak sengaja menemukan blogku ini …aku hanya ingin menitip pesan..tolong jangan katakan pada orang lain … karena comfort zone ini wilayah yang sangat berharga untuk privasiku … aku yakin pasti bahwa seseorang yang pernah masuk secara tidak sengaja ke comfort zone ini lambat laun akan melupakan comfort zoneku… karena masih banyak blog atau website lain yang perlu dibaca… sementara blogku ini hanya berisi tulisan-tulisan curahan hati yang kurang bermanfaat bagi orang lain.

February 20th, 2008
Kiriman: resonansi_2002
“The human condition: lost in thought.”
~ Eckhart Tolle
Saya sengaja memberikan judul yang menggigit untuk artikel ini. Banyak orang yang salah mengerti bila saya berbicara mengenai pikiran. Semua buku dan artikel yang saya tulis selalu berbicara mengenai pikiran. Banyak yang bertanya pada saya, “Pak, berarti kunci untuk mencapai sukses atau kebahagiaan adalah dengan pikiran?”
“Ya dan belum tentu,” jawab saya.
Lha, kok bisa ya dan belum tentu. Bukankah semua ini hanya permainan pikiran?
Anda benar sekali. Semua adalah permainan pikiran. Namun sayangnya sering kali yang kita alami adalah kita dipermainkan pikiran kita dalam suatu permainan yang pikiran mainkan dengan tidak main-main.
Bingung?
Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Mereka jarang sekali, jika tidak mau dikatakan tidak pernah, mampu menjelajah melampaui perangkap penjara pikiran yang dikondisikan oleh keterbatasan persepsi akibat ketidaktahuan akan ketidaktahuan.
Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.
Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”
Benar, kita bisa mencapai kebahagian atau sukses di bidang apa saja dengan menggunakan pikiran secara benar. Namun bila kita tidak hati-hati seringkali kita diperdayai oleh pikiran kita.
Ambil contoh “kebencian” dan “kebahagiaan”. Jika dilihat sekilas maka kita tahu bahwa “kebencian” adalah suatu emosi yang negatif sedangkan “kebahagiaan” adalah emosi positif. Benarkah demikian?
Ternyata “kebahagiaan” justru bisa menjadi sumber masalah. Pikiran yang terlalu melekat, atau selalu menginginkan, atau berusaha mempertahankan “kebahagiaan” justru akan menimbulkan efek negatif.
Dan bahkan keinginan untuk bahagia bisa mengobarkan api “kebencian”. Untuk lebih jelas mengenai hal ini Anda bisa membaca artikel saya yang berjudul “Bahaya Kebencian dan Kebahagiaan”.
Untuk bisa keluar dari perangkap pikiran maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Dengan memahami cara kerja pikiran kita bisa mengerti permainan yang sedang pikiran mainkan di suatu saat. Sehingga kita, bukannya larut dalam permainan itu atau didikte dengan suatu aturan main yang pikiran tetapkan sendiri, dapat menetapkan rule of game yang menguntungkan diri kita.
Untuk itu mari kita amati proses belajar setiap manusia. Kita melewati empat tahap belajar yaitu:
- Unconscious Incompetence
- Conscious Incompetence
- Conscious Competence
- Unconscious Competence
Pada tahap pertama, Unconscious Incompetence, kita tidak tahu kalau kita tidak tahu. Misalnya, sewaktu kita masih kecil, kita tidak tahu bahwa kita, saat itu, belum bisa jalan. Melalui interaksi dengan orang dewasa atau lingkungan kita, yang masih kecil, akhirnya tahu (Conscious Incompetence) bahwa kita belum bisa jalan. Mengapa? Karena kita melihat orang di sekeliling kita berjalan tegak.
Selanjutnya kita mulai belajar berjalan dan akhirnya bisa berjalan dengan sempurna (Conscious Competence). Sekarang, kita bahkan tidak sadar lagi bahwa kita bisa jalan dengan sempurna (Unconscious Competence). Kemampuan berjalan, yang dulunya kita pelajari dengan begitu susah payah, mengalami jatuh bangun, bahkan ada yang sampai kepalanya benjol karena jatuh, kini telah menjadi kecakapan yang bekerja secara otomatis.
Nah, saat suatu skill telah masuk ke tahap Unconscious Competence maka sejak saat itu, bila tidak dilakukan intervensi secara sadar, skill ini akan bekerja dengan prinsip automatic pilot.
Hal yang sama berlaku juga dengan kecakapan berpikir, yang note bene adalah keahlian pikiran itu sendiri.
Automatic pilot berfungsi untuk memudahkan hidup kita. Yang akan dijalankan oleh sistem automatic pilot adalah program/kebiasaan yang paling kuat. Baru-baru ini, saat sedang mengendarai mobil, saya larut dalam pemikiran yang cukup intens mengenai sesuatu. Saat itu pikiran (bawah sadar) saya secara otomatis mengambil alih kendali. Tanpa saya sadari, saat bertemu jalan yang bercabang du a, secara otomatis mobil saya belokkan ke kanan. Padahal rute yang seharusnya saya lewati adalah belok ke kiri. Jalan ke arah kanan adalah rute yang setiap hari saya lalui untuk ke kantor.
Nah, apa sih yang membuat kita terperangkap di dalam penjara pikiran?
Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai “kebenaran” maka ia akan konsisten dengan “kebenaran” itu. “Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan “kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. “Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.
“Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.
Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa “sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan “kebenarannya”?
Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Sesuai dengan judul artikel ini maka jalan kebebasan adalah melalui pintu kesadaran.
Nah, Anda mungkin akan bertanya, “Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”
Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakuk an disosiasi atau pemisahan yang jelas.
Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal “sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.
Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?
Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri “berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.
Pikiran ibarat segelas air yang keruh karena berisi kotoran atau partikel kecil (baca: buah pikir). Dalam kondisi keruh kita tidak akan bisa melihat melampaui gelas air itu. Kita tidak akan mampu melihat dan mengamati berbagai komponen yang membuat air (baca: pikiran) menjadi keruh.
Lalu, bagaimana caranya untuk bisa melihat partikel kecil yang mengotori air? Bagaimana cara untuk bisa melihat melampaui gelas yang keruh?
Sekali lagi, caranya sangat mudah. Letakkan gelas yang berisi air keruh dan biarkan selama beberapa saat. Jangan digerakkan atau diaduk-aduk. Biarkan saja.
Selang beberapa saat kotoran-kotoran itu akan mulai mengendap dengan sendirinya, tanpa harus kita upayakan. Setelah semuanya mengendap air di gelas menjadi sangat jernih. Kotoran itu akan turun ke dasar gelas dan menjadi sangat mudah diamati. Kita juga akan dapat melihat melampaui gelas. Mudah, kan?
Biarkan saja.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya menjadi hening?
Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.
Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.
Bill Gould, mentor saya, selalu berpesan pada saya, “Adi, if you want to keep growing, you have to challenge everything. Even your own thinking and beliefs.”
Sumber: Bebas Dari Penjara Pikiran Melalui Pintu Kesadaran oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.
Tags: motivasi
February 20th, 2008
Dalam perjalanan pulang di malam hari dari acara 7 hari wafatnya Pa Toni, aku mendengar ceramah dari radio bahwa Allah hanya akan dekat dengan “orang2 yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”… Hatiku merasa malu mendengarnya aku belum berbuat kebaikan karena teringat akan diskusi dengan seorang sahabat lama yang kini telah menjadi biss (istilah boss untuk wanita)… aku memang sejak semula kagum atas kepandaiannya dan memang sudah pantas menjadi biss.
Biss mengatakan padaku bahwa telah melihat diaryku di blog, beliau sependapat dengan tulisanku tetapi langkah menulis uneg-uneg di blog adalah tidak bijaksana mengingat akan banyak orang yang membacanya dan belum tentu orang yang membaca sependapat dengan tulisan itu, terlebih apabila seseorang merasa tersinggung kemudian mengambil jalur hukum justru akan membahayakan si penulis.
Aku termenung mendengar penuturannya yang halus, dan baru terpikir olehku bahwa mungkin aku berbuat salah telah menulis di blogku sesuatu yang mungkin menyinggung orang lain… saat itu beliau menyatakan kenapa tidak bercerita kepadanya atas perasaan hatiku… kukatakan bahwa aku pada saat itu tidak mau mengungkapkan perasaan hati kepada siapapun …karena efeknya kurang baik bagiku… sehingga semua kupendam sendiri dan apa yang ada di benakku kusalurkan melalui tulisan di blog… tetapi aku kurang menyadari bahwa menulis di blog akan dibaca oleh banyak orang dan pepatah “memercik air di dulang terpecik muka sendiri” pasti akan terjadi…
Saat itu rasa malu menerpaku… mengapa aku telah melakukan suatu kelalaian? Kemudian beliau menyatakan bahwa di semua perusahaan banyak kondisi politis sehingga keadaan “menzhalimi” adalah sesuatu yang banyak terjadi … ternyata beliaupun salah seorang korban di zhalimi, namun biss berani mengungkapkan perasaannya… mengapa aku tidak berbuat demikian ?
Kata-kata yang diucapkan sang biss sangat mengena di hati ini… membuatku sangat malu karena aku belum bisa berlaku bijaksana… aku merasa biss adalah sahabat terbaik… karena seorang sahabat akan selalu mengoreksi sahabatnya… Dalam Surat Wal Asri sangat jelas Sesungguhnya manusia akan merugi kecuali orang-orang yang saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran.
Aku teringat diary maia terhadap Achmad Dhany suaminya di Blog Maia Maia , begitu terbukanya sehingga aku memahami isi hati Maia yang terluka… tapi tentunya tidak semua orang berpikiran yang sama dengan Maia maupun aku, tetapi semua orang bisa membaca isi hatinya…. Sesuatu yang harus dikoreksi begitupun dengan blogku.
Sambil menyetir mobil aku berpikir blogku harus segera kuedit…. dan karena memerlukan waktu dan aku hanya dapat melakukannya hanya hari sabtu dan minggu , sementara Sabtu dan Minggu ini harus di Cisarua, maka edit hanya bisa kulakukan di hari Sabtu awal bulan Maret…
Terima kasih sahabatku … Engkau sangat beruntung karena telah dapat mengamalkan surat Wal Asri yaitu berwasiat tentang kebenaran… Aku berdoa semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT dan Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik untukmu… doakan agar aku dapat mengikuti langkahmu… amin…