“Pemimpin Segala Cuaca”


Posted in HARAPANKU by Dewi

Pengaruh globalisasi sudah semakin terasa, dengan kondisi yang terjadi, seperti era kompetisi yang semakin ketat, masyarakat yang semakin kritis, tingkat kompleksitas kehidupan masyarakat yang semakin berat, apalagi bila mengingat kondisi perekonomian dan moneter sedang mengalami ujian yang berat, maka banyak pihak berharap muncul pemimpin-pemimpin yang tangguh di setiap lini organisasi, baik organisasi formal maupun informal, di lembaga organisasi perusahaan hingga pemerintahan pada setiap jenjang hirarki organisasi.

Berdasarkan kultur-historis, menunjukkan bahwa keberhasilan suatu organisasi (perusahaan hingga pemerintahan) sangat dipengaruhi oleh kualitas pemimpinnya. Oleh karena itu, sesuatu yang wajar apabila para anggota dalam suatu organisasi senantiasa mendambakan hadirnya pemimpin yang dapat disayanginya karena dapat melaksanakan kepemimpinan dengan arif dan bijak yaitu dengan memperhatikan kepentingan organisasi dan anggotanya secara adil dan seimbang.

Ada dua type lahirnya kepemimpinan, yaitu (1) kepemimpinan merupakan suatu seni atau bakat yang di bawa sejak lahir. Berarti seolah kepemimpinan sudah terbentuk dan dibawa semenjak lahir secara kodrati. Pendapat ini, walau diakui memberi pengaruh terhadap lahirnya seorang pemimpin, namun pengaruhnya dianggap tidak siknifikan; (2) Kepemimpinan merupakan suatu ilmu yang dapat dipelajari. Oleh karena itu banyak ditemukan berbagai teori tentang kepemimpinan misalnya teori XY-nya McGregor yang menganggap bahwa manusia mempunyai dua sisi yang berlawanan, maka tugas seorang pemimpin untuk memanagenya agar menghasilkan yang terbaik; Teori Path-goal yang menerangkan pengaruh perilaku pemimpin menentukan tingkat motivasi, kepuasan dan prestasi anggota; ada pula teori Grid dari Blake & Mouton yang menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin apabila ia dapat menggunakan sekaligus dua gaya kepemimpinan secara pas; dan masih banyak lagi teori-teori kepemimpinan yang lainnya.

Pendapat yang kedua tentang kepemimpinan inilah yang semakin berkembang apalagi pada saat ini dalam dunia yang semakin cepat berubah dan bersifat turbulensi, rasanya tidak ada pemimpin tanpa belajar terus menerus untuk mengasah kemampuannya.

Definisi tentang kepemimpinan pun banyak ditemukan, seperti pendapat Stogdil yang menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses mengarahkan serta mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas anggota atau kelompok anggota organisasi. Sedangkan pengertian tentang kepemimpinan manajerial menurut Stoner adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan- kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Kepemimpinan manajerial inilah yang sangat penting di masa kini yang berkembang dan bermunculan organisasi formal yang membutuhkan struktur organisasi dan sistem manajerial secara formal pula.

Dari beberapa pendapat dan definisi di atas dapat disarikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan mempengaruhi para anggota dalam suatu organisasi untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya demi tujuan yang akan diraihnya. Tujuan yang akan diraih bukanlah tujuan pemimpinnya atau pun tujuan anggotanya, tetapi tujuan organisasi. Walau dalam tahapan menuju tujuan dan setelah tujuan tercapai, tetap harus memperhatikan kepentingan organisasi, pemimpin dan anggota. Sehingga terjadi sinergi yang semakin memperkuat organisasi dan disisi lain tidak melupakan untuk meningkatkan kepentingan pemimpin dan anggota (kesejahteraan).

Sifat/karakter dasar Kepemimpinan pada hakekatnya memiliki unsur kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai tujuannya, namun ada unsur yang tidak kalah pentingnya yang perlu dimiliki yaitu jiwa pengorbanan, kejujuran, kewibawaan, mampu membuat keputusan, berani dengan penuh pertimbangan menghadapi resiko atas keputusan yang telah dibuatnya, mempunyai kekuatan interpersonal, dan mampu menciptakan iklim yang sejuk bagi segenap komponen organisasi terutama bagi para anggotanya. Sehingga semangat demokrasi-pluralitas akan terus terjaga, karena pemimpin yang demikian tidak akan bersikap otoriter dan sekadar menggunakan kekuasaan dan kekuatan semata. Tetapi ia akan berusaha dan membiasakan menerima saran, kritik bahkan seandainya dari para anggota paling bawah sekalipun. Ia tidak akan apriori, antipati terhadap kritik.

Makna kepemimpinan yang lain adalah ketika ada kondisi kritis dan krisis, kemudian tidak setiap orang mau melakukannya - karena resiko yang akan dihadapi – untuk memperjuangkan dan mengatasi kondisi tersebut, ia akan tampil dengan segala resiko yang akan dihadapinya. Keberanian seorang pemimpin untuk tampil bukan karena hilangnya rasa takutnya atau untuk popularitas dirinya tapi ada yang lebih prinsip daripada rasa takutnya.

Berarti seorang pemimpin adalah orang yang bergerak paling awal, berjalan di depan, mengambil langkah/keputusan pertama (Decision Maker) dan berbuat paling dulu (Risk Propensity). Ketika seorang Pemimpin sudah menetapkan suatu keputusan ia akan teguh dengan pendiriannya. Ia tidak akan terpengaruh dengan pro kontra atau nilai popularitas dirinya.

Pemimpin sejati akan tahu kapan ia harus tampil dan kapan ia harus turun. Ia tak suka jabatan rangkap walau banyak anggota yang menginginkannya karena ia tahu bahwa ia bukan superstar yang serba bisa, ia menyadari akan keterbatasannya sebagai manusia. Ia juga berusaha melakukan kaderisasi dan regenerasi demi kepentingan organisasi secara jangka panjang.

Pemimpin sebaiknya juga memiliki kearifan dan jiwa besar. Karena dengan kearifan dan jiwa besar segala sesuatu akan mampu dihadapi dengan sikap positip dan dengan mata hati yang jernih. Ia juga bisa menjadi teladan atau panutan bagi para anggotanya. Karena para anggota akan melakukan apa yang dilakukan pemimpinnya. Berkaitan dengan essensi makna kearifan dan jiwa besar, ada pepatah yang berbunyi : ”Negara menjadi besar karena memiliki pemimpin besar yang berjiwa besar”, yang patut direnungkan dalam aplikasi kepemimpinan ditingkat manapun juga dalam kesehari-harian.

Kesejahteraan, fasilitas dan popularitas tidak menjadi suatu tujuan baginya karena hal itu sudah pasti akan melekat dalam setiap jenjang jabatan kepemimpinan. Dengan demikian seorang Pemimpin tidak hanya berkonsentrasi pada kepentingan dirinya sendiri, namun harus mempunyai skope kepentingan yang lebih luas sebagai tujuannya yaitu bagaimana mampu memberikan hasil yang terbaik demi negara, pemerintah, karyawan/anak buah, masyarakat dan dirinya (sesuai skope tugasnya).

Pemimpin sejati yang memiliki karakter demikian pastilah akan dicintai anggota / rakyatnya, walau sudah tidak memimpin lagi bahkan sampai akhir hayatnya.

Tuntutan karakter pemimpin ideal dan sempurna seperti dalam paparan tentu tidak realistis, tetapi paling tidak dapat menjadi pedoman dalam melangkah bagi seorang pemimpin dalam kehidupan yang nyata dan sebenarnya .

Akhirul kata, paparan di atas merupakan manifestasi dari suatu harapan yang mendambakan munculnya pemimpin-pemimpin di setiap lini organisasi formal maupun norformal, organisasi perusahaan atau pemerintahan yang mampu memajukan organisasi perusahaan maupun mengentaskan kondisi bangsa dan negara yang sedang prihatin dilanda krisis multidimensi.

Sumber : website Eka Ambara HP MHum

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

One comment

  1. Ria Handayani says:

    termasuk teori munculnya pemimpin apa mantan persiden soekarno??

    April 2nd, 2009 at 1:49 pm

Leave a comment


Dewi Poedjiastuti
Ibu Rumah Tangga, Karyawati dan juga Mahasiswi. Bekerja dan bertempat tinggal di Ibukota Jakarta.  Web site ini merupakan pelabuhan ideku Apa yang kurasakan dan ingin kunyatakan dalam bentuk tulisan ada dalam web site ini. Lebih Detail >>



Kategori :
Posting :
Komentar :


Hak Cipta © 2006-2007 Dewi-Poedjiastuti.com
Webhosting didukung oleh C211 Web Services