“Meredam Rasa Tersinggung”


Posted in HARAPANKU by Dewi

Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbul-nya  rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh  ketidak-tahanan kita terhadap sikap orang lain.  

                                                                                 
 Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjut-nya  akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membaha-yakan dari  ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh. 

                                                                                     
 Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan  lainnya. 
 Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu  keharusan.                                                                
                                                                           
Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul   karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, ber-jasa, baik, tampan, dan merasa sukses  .   
                                                                                                                              
 Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai  
 kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung   
 akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada  
 sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.  

     
 Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah
tidak menilai lebih  kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemim-pin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan  membuat kita makin tersinggung. 

                                                                                                                    
Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersing-gungan :  

Pertama, belajar melupakan.     
Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka-agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan  seterusnya. Anggap semuanya ini berkah dari Allah SWT agar kita tidak tamak  terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan  oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta  sedikit pun kecuali sepercik titipan berkah dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan.

Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan  dihormati, akan kian sering kita sakit hati.  

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita  akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.                
                                                                           
Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa  menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyi-kapi  kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain ber-buat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah me-maksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang  lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.     
                                                                           
 Ketiga, kita harus berempati

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah  seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi  mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, “Oh indah nian pemandangan sepanjang hari”. Kontan 
ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab,  sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.  
                                                                           
 Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi oran namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat  mengendalikan diri.

                                                       
Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang  peningkatan kualitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah  roh  Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.

Sumber : Email dari Pa Budi Priyono - Indocement
                                                                            
                                                             
 

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

Leave a comment


Dewi Poedjiastuti
Ibu Rumah Tangga, Karyawati dan juga Mahasiswi. Bekerja dan bertempat tinggal di Ibukota Jakarta.  Web site ini merupakan pelabuhan ideku Apa yang kurasakan dan ingin kunyatakan dalam bentuk tulisan ada dalam web site ini. Lebih Detail >>



Kategori :
Posting :
Komentar :


Hak Cipta © 2006-2007 Dewi-Poedjiastuti.com
Webhosting didukung oleh C211 Web Services