“MERENUNG”
Jiwa menangis diiris sedih
Bermuram durja penuh kesedihan
Jiwa tersedu menangis merintih
Badan terkulai penuh penderitaan
Bagai terdengar angin menderu-deru
Awan tebal bergulung-gulung
Halilintar gemuruh bagaikan peluru
Semesta bagai berkabung Tak ada kawan menghapus gundah
Tak terdengar langkah orang bertandang
Sendirilah rasa jiwa tenggelam
Tidak terdengarkah orang menjelang
Saat luka bersandang menikam dada
saat air mata menjadi bulir kesedihan hati
tak sempat asa tertuang dalam nyata
tak sempat rasa untuk bisa berbagi
hanya luka tergores yang tertanam
menahan perih yang tertahan
hanya rasa kepedihan terasa menikam
dalam kesendirian ku bisa bertahan
ku dekap erat buku tebal kesayangan
ku sandarkan kepala ke dinding yang tertahan bantal
ku terisak akan rasa yang tak bisa ku terima dalam kenyataan
ku tertunduk pilu mencari sebuah jawaban dalam sebuah angan
Hanya terdengar angin menderu-deru
Di angkasa dingin nan lebar
Adakah orang yang akan mengulurkan tangan ?
Diantara deru terdengar bisikan Tuhan supaya sabar
mensyukuri nikmat atas karuniaNya, selalu tersenyum menghadapi dunia karena hanya
Tuhan tempat berlindung
Penderitaan diri tak seberapa dibanding dgn penderitaan lain di dunia ini
segala penderitaan
Lambat laun akan hilang disapu waktu
Sumber : website ninanuter

