“PERJUANGAN HAMIL & MELAHIRKAN”


Posted in HARAPANKU by Dewi

Awal Pebruari Mas Syahruddin dari Republika telepon…. Seperti biasa sebagai sahabat menanyakan kabar masing-masing, dan terakhir Mas Sya ingin mewawancara… kukatakan mohon maaf karena tugas aku yang baru sudah tidak boleh lagi wawancara atas nama perusahaan.. wawancara harus kepada Ka Humas… namun Mas Sya menyatakan “masa ga boleh sih mbak wawancara untuk kisah rubrik kesehatan …kan tidak ada hubungannya dengan kantor “… mendengar bahwa sifatnya pribadi bukan kantor aku bersedia di wawancara melalui telepon.

Hari selasa pagi 18 Maret 08, saat menyetir mobil mbak Indi kirim sms mengabarkan ada fotoku cukup besar di republika.. aku telepon balik bahwa aku belum baca Republika karena ndilalah pagi2 saat cuci mobil Asmi tidak sengaja menyiram Koran pagi yang baru datang ..dan Koran tidak bisa dibaca karena sedang dijemur..

Sampai kantor kucari Mas Dul untuk cari Republika …tidak ada sudah habis…. Di Lobby pun Koran sedang dipinjam tapi aku pesan Mbak Dede kalau sudah ada tolong diinfokan…dan akhirnya berakhirlah penantian, sore aku baru bisa melihat foto dan membaca artikel republika… saat aku akan telepon mas Sya mengucapkan terima kasih…mas Sya sudah telepon lebih dulu menanyakan apakah aku sudah baca kisah di rubrik kesehatan ? ….rupanya telepati kami nyambung hehe… dan inilah artikel karya Mas Sya, sumber dari republika online….

“Perjuangannya Saat Hamil”

Bagi pasangan suami-isteri, kehadiran buah hati dalam rumah tangga sangat diharapkan. Namun, tidak semua pasangan beruntung bisa mendapatkannya karena berbagai kekurangan dan hambatan. Dewi Poedjiastuti, kepala Biro Manajemen Mutu Pelayanan PT Asuransi Jasindo Tbk (persero), juga mengalaminya. Sejak menikah pada 1983, Dewi bersama suaminya, M Mushanif, memprogramkan untuk mendapatkan anak. Keduanya sepakat untuk berkonsultasi dengan dokter dan mencoba jalan alternatif agar si buah hati bisa segera hadir dalam rumah tangga. ‘’Saya bersama suami melakukan konsultasi dan pemeriksaan kepada tiga orang, yaitu dokter, paranormal, dan tukang pijat (bidan kampung),'’ jelas wanita kelahiran Klaten, 18 Juli 1960 ini kepada Republika.
Dari ketiga orang tersebut, kata Dewi, diperoleh penyebab ketidakhamilannya. ‘’Dari dokter, paranormal, maupun tukang pijat itu, semuanya menyatakan bahwa rahim saya terlalu dalam, sehingga susah untuk hamil. Selain itu, kata mereka, di dalam rahim saya ada penghalang tapi bukan kista, miom, atau endrometriosis,'’ tuturnya.
Ketiganya memberikan saran yang semuanya diikuti. Dokter menyarankan agar rahimnya ditiup dengan menggunakan alat untuk menghilangkan sumbatan di dalam rahim. Paranormal menyarankan untuk mengonsumsi ramuan herbal, dan tukang pijat sesuai dengan perannya melakukan pemijatan.

‘’Demi hadirnya seorang anak dalam rumah tangga, ketiga saran itu saya ikuti, meskipun hanya sekali,'’ papar mantan Kepala Biro Humas Asuransi Jasindo ini. Setahun setelah mengikuti saran dari ketiga orang tersebut, Dewi hamil. ‘’Awalnya belum tahu kalau hamil. Saya pikir ketika itu saya muntah-muntah biasa. Ternyata begitu saya bawa ke dokter, saya dinyatakan positif hamil. Tentu saja saya sangat senang,'’ ujarnya. Karena dalam posisi sungsang, anak pertama yang diberi nama Muhammad Irfan Handi Putra ini lahir dengan cesar.

Dua tahun kemudian lahir anak keduanya, Muhammad Iqbal Handewa Putra, melalui operasi cesar juga. Dibandingkan dengan Irfan, proses kelahiran Iqbal justru lebih ribet. Kenapa? ‘’Ternyata saya mengalami preeclamsia (keracunan kehamilan - Red),'’ ujarnya. ‘’Beruntung, dokter yang menangani saya ketika itu, dr Willy, cepat bertindak dan segera merujuk saya ke rumah sakit Bunda. Kalau tidak, tentu hasilnya akan lain,'’ jelas Dewi.

Seperti diketahui, keracunan kehamilan merupakan penyebab kematian ibu hamil, dan hingga kini belum diketahui penyebabnya. Ada pandangan yang menyebutkan, penyebab preeclampsia adalah imunologi. Gejalanya, saat melahirkan tekanan darah meninggi dengan cepat. ‘’Ketika itu dr Willy mengira alat tensi darahnya berjalan tidak normal karena saat diperiksa tekanan darah ada pada posisi 162/112. Beliau bilang agar saya segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani secara lebih baik,'’ jelasnya.

Tak lama setelah masuk ruang perawatan, tensi darahnya ada pada 172/112. ‘’Beruntung dokter-dokternya cepat bertindak, sehingga kondisi saya bisa diselamatkan,'’ paparnya. Karena itu, Dewi menyarankan agar dokter berani mengambil tindak cepat jika mengetahui adanya kelainan yang tidak mampu ditangani sendiri. ‘’Dan, kepada ibu-ibu yang sedang hamil, hendaknya rajin dan rutin memeriksakan kesehatan dan kehamilannya sehingga jika ada sesuatu yang aneh bisa ditangani segera,'’ paparnya. Sya

Terima kasih Mas Sya…artikelnya menarik dan memang betul-betul kisah nyata karena setelah 4 tahun menikah kami berusaha berobat ke Medis dan Non Medis dalam rangka mendapatkan momongan… dan alhamdulillah kini Irfan semester 6 UI desember lalu usianya 20 tahun tingginya sudah 178 cm dan Iqbal semester 2 UGM Agustus yad usianya 19 tahun tingginya 184 cm….

000019.JPG
DSC00318.JPG

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

Leave a comment


Dewi Poedjiastuti
Ibu Rumah Tangga, Karyawati dan juga Mahasiswi. Bekerja dan bertempat tinggal di Ibukota Jakarta.  Web site ini merupakan pelabuhan ideku Apa yang kurasakan dan ingin kunyatakan dalam bentuk tulisan ada dalam web site ini. Lebih Detail >>



Kategori :
Posting :
Komentar :


Hak Cipta © 2006-2007 Dewi-Poedjiastuti.com
Webhosting didukung oleh C211 Web Services