Archive for
March, 2008
March 6th, 2008
Jika anda memiliki hobi atau kegemaran menulis ternyata banyak sekali manfaatnya, salahsatunya menulis sebagai aktifitas yang menye-hatkan.Proses selanjutnya menulis juga menjadikan anda lebih arif dan bijak menyikapi berbagai peristiwa.
Dalam pandangan Psikofitrah, menulis pengalaman hidup merupakan
perangkat untuk mengubah persepsi dengan menyatukan keyakinan, emosi dan pengalaman sehingga seseorang mampu mengidentifikasi-kan cara-cara mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya. Proses yang menyehatkanitu terjadi ketika menulis mengubah satu peristiwa atau pengalaman hidup dari yang negatif menjadi positif .
Ada beberapa tips agar menulis menjadi aktifitas yang menyehatkan:
1) menulislah dengan hati yang jernih dan pikiran yang hening. Disaat
anda memang meluangkan waktu, bukan menulis dengan diburu-buru atausambil mengerjakan pekerjaan lainnya.
2) Menulislah dengan bercerita ke dalam diri, “apa yang saya rasakan
dari peristiwa tadi? Apakah menyenangkan atau membuat kita sedih? Baikatau burukkah buat diri kita? Apa hikmah dari peristiwa tersebut?”
3) Menulislah dengan merubah persepsi yang negatif ke arah yang
positif, “coba gambarkan keadaan di masa mendatang menjadi seperti
apa..apa kira-kira yang menjadikan diri kuat? Apa manfaatnya dari
tersebut?”
Sumber : email Agus Syafii cfbe
March 6th, 2008
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya.” demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi.Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe.Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”
Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…”
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya.
Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti menga-bulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe !” batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan…dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil?
Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.
Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan ”teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.
Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat..Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya.Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik,paro baya tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??” Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.
Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi.Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi.Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe …”
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.”jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe …” “Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” Tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi.”DuhGusti…bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempeya?”ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu.Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!
“Alhamdulillah!”pekiknya ,tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. ”Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?” “Oohh, bukan begitu Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oo..iya, jadi semuanya berapa, Bu?”
Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita.Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.
Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa. Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)
Imam al-Ghazali: Carilah seribu satu alasan untuk tetap bersangka baik terhadap saudaramu sesama muslim
Sumber : email pa Budi Priyono - Indocement
March 4th, 2008
Jiwa menangis diiris sedih
Bermuram durja penuh kesedihan
Jiwa tersedu menangis merintih
Badan terkulai penuh penderitaan
Bagai terdengar angin menderu-deru
Awan tebal bergulung-gulung
Halilintar gemuruh bagaikan peluru
Semesta bagai berkabung Tak ada kawan menghapus gundah
Tak terdengar langkah orang bertandang
Sendirilah rasa jiwa tenggelam
Tidak terdengarkah orang menjelang
Saat luka bersandang menikam dada
saat air mata menjadi bulir kesedihan hati
tak sempat asa tertuang dalam nyata
tak sempat rasa untuk bisa berbagi
hanya luka tergores yang tertanam
menahan perih yang tertahan
hanya rasa kepedihan terasa menikam
dalam kesendirian ku bisa bertahan
ku dekap erat buku tebal kesayangan
ku sandarkan kepala ke dinding yang tertahan bantal
ku terisak akan rasa yang tak bisa ku terima dalam kenyataan
ku tertunduk pilu mencari sebuah jawaban dalam sebuah angan
Hanya terdengar angin menderu-deru
Di angkasa dingin nan lebar
Adakah orang yang akan mengulurkan tangan ?
Diantara deru terdengar bisikan Tuhan supaya sabar
mensyukuri nikmat atas karuniaNya, selalu tersenyum menghadapi dunia karena hanya
Tuhan tempat berlindung
Penderitaan diri tak seberapa dibanding dgn penderitaan lain di dunia ini
segala penderitaan
Lambat laun akan hilang disapu waktu
Sumber : website ninanuter

March 4th, 2008
Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbul-nya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidak-tahanan kita terhadap sikap orang lain.
Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjut-nya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membaha-yakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.
Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.
Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, ber-jasa, baik, tampan, dan merasa sukses .
Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai
kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung
akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada
sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.
Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemim-pin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.
Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersing-gungan :
Pertama, belajar melupakan.
Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka-agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkah dari Allah SWT agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkah dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan.
Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.
Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.
Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyi-kapi kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain ber-buat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah me-maksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.
Ketiga, kita harus berempati.
Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, “Oh indah nian pemandangan sepanjang hari”. Kontan
ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.
Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi oran namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.
Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kualitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah roh Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.
Sumber : Email dari Pa Budi Priyono - Indocement
March 1st, 2008
Pengaruh globalisasi sudah semakin terasa, dengan kondisi yang terjadi, seperti era kompetisi yang semakin ketat, masyarakat yang semakin kritis, tingkat kompleksitas kehidupan masyarakat yang semakin berat, apalagi bila mengingat kondisi perekonomian dan moneter sedang mengalami ujian yang berat, maka banyak pihak berharap muncul pemimpin-pemimpin yang tangguh di setiap lini organisasi, baik organisasi formal maupun informal, di lembaga organisasi perusahaan hingga pemerintahan pada setiap jenjang hirarki organisasi.
Berdasarkan kultur-historis, menunjukkan bahwa keberhasilan suatu organisasi (perusahaan hingga pemerintahan) sangat dipengaruhi oleh kualitas pemimpinnya. Oleh karena itu, sesuatu yang wajar apabila para anggota dalam suatu organisasi senantiasa mendambakan hadirnya pemimpin yang dapat disayanginya karena dapat melaksanakan kepemimpinan dengan arif dan bijak yaitu dengan memperhatikan kepentingan organisasi dan anggotanya secara adil dan seimbang.
Ada dua type lahirnya kepemimpinan, yaitu (1) kepemimpinan merupakan suatu seni atau bakat yang di bawa sejak lahir. Berarti seolah kepemimpinan sudah terbentuk dan dibawa semenjak lahir secara kodrati. Pendapat ini, walau diakui memberi pengaruh terhadap lahirnya seorang pemimpin, namun pengaruhnya dianggap tidak siknifikan; (2) Kepemimpinan merupakan suatu ilmu yang dapat dipelajari. Oleh karena itu banyak ditemukan berbagai teori tentang kepemimpinan misalnya teori XY-nya McGregor yang menganggap bahwa manusia mempunyai dua sisi yang berlawanan, maka tugas seorang pemimpin untuk memanagenya agar menghasilkan yang terbaik; Teori Path-goal yang menerangkan pengaruh perilaku pemimpin menentukan tingkat motivasi, kepuasan dan prestasi anggota; ada pula teori Grid dari Blake & Mouton yang menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin apabila ia dapat menggunakan sekaligus dua gaya kepemimpinan secara pas; dan masih banyak lagi teori-teori kepemimpinan yang lainnya.
Pendapat yang kedua tentang kepemimpinan inilah yang semakin berkembang apalagi pada saat ini dalam dunia yang semakin cepat berubah dan bersifat turbulensi, rasanya tidak ada pemimpin tanpa belajar terus menerus untuk mengasah kemampuannya.
Definisi tentang kepemimpinan pun banyak ditemukan, seperti pendapat Stogdil yang menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses mengarahkan serta mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas anggota atau kelompok anggota organisasi. Sedangkan pengertian tentang kepemimpinan manajerial menurut Stoner adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan- kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Kepemimpinan manajerial inilah yang sangat penting di masa kini yang berkembang dan bermunculan organisasi formal yang membutuhkan struktur organisasi dan sistem manajerial secara formal pula.
Dari beberapa pendapat dan definisi di atas dapat disarikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan mempengaruhi para anggota dalam suatu organisasi untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya demi tujuan yang akan diraihnya. Tujuan yang akan diraih bukanlah tujuan pemimpinnya atau pun tujuan anggotanya, tetapi tujuan organisasi. Walau dalam tahapan menuju tujuan dan setelah tujuan tercapai, tetap harus memperhatikan kepentingan organisasi, pemimpin dan anggota. Sehingga terjadi sinergi yang semakin memperkuat organisasi dan disisi lain tidak melupakan untuk meningkatkan kepentingan pemimpin dan anggota (kesejahteraan).
Sifat/karakter dasar Kepemimpinan pada hakekatnya memiliki unsur kekuasaan dan kekuatan untuk mencapai tujuannya, namun ada unsur yang tidak kalah pentingnya yang perlu dimiliki yaitu jiwa pengorbanan, kejujuran, kewibawaan, mampu membuat keputusan, berani dengan penuh pertimbangan menghadapi resiko atas keputusan yang telah dibuatnya, mempunyai kekuatan interpersonal, dan mampu menciptakan iklim yang sejuk bagi segenap komponen organisasi terutama bagi para anggotanya. Sehingga semangat demokrasi-pluralitas akan terus terjaga, karena pemimpin yang demikian tidak akan bersikap otoriter dan sekadar menggunakan kekuasaan dan kekuatan semata. Tetapi ia akan berusaha dan membiasakan menerima saran, kritik bahkan seandainya dari para anggota paling bawah sekalipun. Ia tidak akan apriori, antipati terhadap kritik.
Makna kepemimpinan yang lain adalah ketika ada kondisi kritis dan krisis, kemudian tidak setiap orang mau melakukannya - karena resiko yang akan dihadapi – untuk memperjuangkan dan mengatasi kondisi tersebut, ia akan tampil dengan segala resiko yang akan dihadapinya. Keberanian seorang pemimpin untuk tampil bukan karena hilangnya rasa takutnya atau untuk popularitas dirinya tapi ada yang lebih prinsip daripada rasa takutnya.
Berarti seorang pemimpin adalah orang yang bergerak paling awal, berjalan di depan, mengambil langkah/keputusan pertama (Decision Maker) dan berbuat paling dulu (Risk Propensity). Ketika seorang Pemimpin sudah menetapkan suatu keputusan ia akan teguh dengan pendiriannya. Ia tidak akan terpengaruh dengan pro kontra atau nilai popularitas dirinya.
Pemimpin sejati akan tahu kapan ia harus tampil dan kapan ia harus turun. Ia tak suka jabatan rangkap walau banyak anggota yang menginginkannya karena ia tahu bahwa ia bukan superstar yang serba bisa, ia menyadari akan keterbatasannya sebagai manusia. Ia juga berusaha melakukan kaderisasi dan regenerasi demi kepentingan organisasi secara jangka panjang.
Pemimpin sebaiknya juga memiliki kearifan dan jiwa besar. Karena dengan kearifan dan jiwa besar segala sesuatu akan mampu dihadapi dengan sikap positip dan dengan mata hati yang jernih. Ia juga bisa menjadi teladan atau panutan bagi para anggotanya. Karena para anggota akan melakukan apa yang dilakukan pemimpinnya. Berkaitan dengan essensi makna kearifan dan jiwa besar, ada pepatah yang berbunyi : ”Negara menjadi besar karena memiliki pemimpin besar yang berjiwa besar”, yang patut direnungkan dalam aplikasi kepemimpinan ditingkat manapun juga dalam kesehari-harian.
Kesejahteraan, fasilitas dan popularitas tidak menjadi suatu tujuan baginya karena hal itu sudah pasti akan melekat dalam setiap jenjang jabatan kepemimpinan. Dengan demikian seorang Pemimpin tidak hanya berkonsentrasi pada kepentingan dirinya sendiri, namun harus mempunyai skope kepentingan yang lebih luas sebagai tujuannya yaitu bagaimana mampu memberikan hasil yang terbaik demi negara, pemerintah, karyawan/anak buah, masyarakat dan dirinya (sesuai skope tugasnya).
Pemimpin sejati yang memiliki karakter demikian pastilah akan dicintai anggota / rakyatnya, walau sudah tidak memimpin lagi bahkan sampai akhir hayatnya.
Tuntutan karakter pemimpin ideal dan sempurna seperti dalam paparan tentu tidak realistis, tetapi paling tidak dapat menjadi pedoman dalam melangkah bagi seorang pemimpin dalam kehidupan yang nyata dan sebenarnya .
Akhirul kata, paparan di atas merupakan manifestasi dari suatu harapan yang mendambakan munculnya pemimpin-pemimpin di setiap lini organisasi formal maupun norformal, organisasi perusahaan atau pemerintahan yang mampu memajukan organisasi perusahaan maupun mengentaskan kondisi bangsa dan negara yang sedang prihatin dilanda krisis multidimensi.
Sumber : website Eka Ambara HP MHum
|