A ‘’BEKAL MENUJU AKHIRAT”


Posted in HARAPANKU by Dewi

Ceramah zuhur Ramadhan minggu lalu di kantor, saat ustadz Jamil Azzaini menyampaikan bahwa kita harus menulis apa yang ada di benak kita agar tulisan tersebut menjadi suatu dorongan untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat, membuatku ingin menulis kegiatan bekal menuju akhirat.

Tulisan bekal menuju akhirat ini telah ditulis satu paragraph pada 2 tahun yang lalu saat aku baru mempunyai blog pelabuhan hati…tetapi entah mengapa selalu ragu untuk melanjutkannya karena takut tulisan tersebut diartikan riya, namun begitu ustadz Jamil Azzaini menyatakan bukan riya maka aku bersemangat kembali untuk mensosialisasikan kegiatan ini, terlebih adanya peristiwa banyaknya korban pembagian zakat di Pasuruan membuat hati ini sedih…ternyata peristiwa berebutan zakat itu ada di seluruh Indonesia dan kondisinya makin parah.

Diawali tahun 1994, saat aku mulai aktif membagi sembako, zakat fitrah maupun qur’ban kepada penduduk dhuafa dilingkungan kampung Tipar, kampung Bojong, kampung gandaria…bersama-sama dengan ibu Faruk, Ibu Joko, Dotty (almh) , setiap ba’da sholat subuh di hari Sabtu dan Minggu bertugas berkeliling kampung-kampung itu mencari jompo maupun dhuafa untuk dibagikan kupon dari mesjid Al Muhajirin, pemberian kupon berjalan baik namun saat pembagian ternyata mereka saling berebut dan sifat keserakahan terlihat dari orang-orang tersebut.

Melihat hal tersebut ada perasaan sedih karena ternyata mereka hanya datang ke mesjid Al Muhajirin pada saat pembagian zakat, sembako ataupun qur’ban saja, di luar waktu itu mereka tidak pernah mendekati mesjid .. akhirnya tahun 1998 kusapa ibu-ibu tersebut dan setelah berbicara akhirnya baru diketahui bahwa mereka buta huruf …ternyata di zaman modern masih banyak orang-orang tua yang buta huruf tidak bisa menulis dan membaca satu hurufpun.. akhirnya kutawarkan mereka untuk belajar di teras rumah untuk belajar membaca dan menulis …dan dari kampung tipar sebanyak 30 ibu bersedia belajar setiap hari selasa malam dan dari kampung tipar/gandaria juga 30 ibu bersedia belajar setiap hari jum’at malam, belajar di mulai dari mengenal a,b,c, lalu ba bi bu be bo..za..zi..zu..ze..zo dan seterusnya…

Alhamdulillah dari tidak bisa membaca dan menulis sama sekali mereka sudah bisa tanda tangan, menulis nama, membaca nama jalan, membaca jurusan mikrolet dan membaca koran/majalah dengan terbata-bata… dan akhirnya 10 ibu telah lancar membaca dan menulis sementara lainnya tetap ditempat terbata-bata maklum sudah usia,… dan hingga kini di garasi rumah masih kubuka perpustakaan mini yang berisi Al Qur’an & Terjemahan , buku-buku Islam yang ringan serta majalah-majalah Islam dan umum antara lain Majalah Ummi, Annida, Al Iman, Tarbawi dll agar murid2 dan anak2nya bisa meminjam majalah untuk memperlancar pelajaran baca tulis sekaligus menambah pengetahuan Islam

Aku mulai akrab dengan ibu-ibu tersebut ternyata mereka begitu lugu, sehingga mengajar merupakan sarana yang menyenangkan maklum sangat berbeda dengan suasana kehidupan yang ada di kantor, di organisasi maupun di kampus..mengobrol dengan mereka membuat hati ini terenyuh dan tertawa karena mereka bercerita tentang kehidupannya dengan terbuka dan aksen yang lucu…setelah belajar satu tahun hubungan telah menjadi semakin dekat dengan mereka , sehingga mereka bebas menyampaikan apa saja kepadaku … dan akhirnya mereka minta agar diberikan pelajaran Iqro, belajar tajwid Al Qur’an ..subhanallah mereka yang selama ini kelihatannya hafal membaca surat yasin ternyata tidak mengenal huruf hanya hafal di luar kepala (hafal cangkem) …hebat mereka hafal karena seringnya membaca surat yasin di mesjid kampung2 mereka, aku sangat sedih mengetahui hal tersebut dan langsung kupanggil Ustadz Afdhol untuk mengajar mereka.

Rasa kasih sayang mulai muncul dan karena telah mengetahui kondisi mereka yang dapat dikatagorikan sebagai kaum dhuafa, aku mulai mengajak teman-teman kantor/Saudara- saudara/ beberapa warga yang berminat untuk menjadi donatur untuk menyalurkan zakat/infak/ shadaqah (yang semula diberikan disalurkan kepada yayasan/orang yang tidak dikenal) disalurkan kepada ibu-ibu yang bersedia dibina akhlaknya .. agar dapat memberikan beras sebagai motivasi atas kegigihan mereka belajar dengan persyaratan 6 kali hadir mendapat 4 liter beras.

Tahun 2004 mesjid Baiturrachim yang lebih dekat dengan rumahku dibandingkan mesjid Al Muhajirin telah selesai dibangun dan belum ada kegiatan pembinaan di mesjid tersebut, agar lebih efektif murid-murid yang selama ini belajar di teras rumah dipindahkan ke mesjid Baiturrachim dan digabung menjadi satu kelas . Program dilaksanakan setiap selasa malam ba’da Isya sampai jam 21.30 dan program diberi nama ‘’Bekal Menuju Akhirat” karena pelajaran ditambah dengan membina akhlak mereka melalui tausyiah untuk menanamkan jiwa tolong menolong, tidak serakah, dan mengerti manfaat agama untuk kehidupan sosial sehari-hari agar agama tidak hanya dijadikan kegiatan rutin/seremonial tetapi juga menyentuh kehidupan… serta sebagai sarana mencari bekal menuju akhirat bagi yang mengajar maupun bagi yang diajarkan

Program kegiatan “mengislamkan orang islam dan bekal menuju akhirat’’ di mesjid Baiturrakhim berjalan atas bantuan teman2 Ibu Nursolichin, Ibu Umar Bakri, Ibu Istijono dan Ibu Mukhtar Zarkasy yang mempunyai satu visi dan waktu (mengingat tugas2ku di kantor dan di kampus juga padat) ..dan dengan dilandasi dengan kedekatan hati dan kasih sayang melihat kondisi ekonomi dan keseriusan murid-murid belajar, kami juga sepakat memberikan motivasi lagi kepada mereka yaitu 30 kali kehadiran mendapat hadiah mukena yang bagus, 60 kali kehadiran mendapat hadiah sajadah yang bagus… kami merasa bahagia/bersyukur bila melihat mereka menggunakan mukena dan sajadah yang bagus untuk sholat Isya sebelum belajar atau sholat Ied dengan mukena dan sajadah yang sama di lapangan Mesjid Baiturrachim karena kebahagiaan kami adalah apabila dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada orang yang kita bina.

Pada tahun 2006 murid berkembang menjadi 182 ibu, penambahan tersebut menyebabkan aku yang bekerja (karena teman-teman ibu rumah tangga) harus giat mencari donatur untuk membiayai program ‘’bekal menuju akhirat’’ karena program tersebut membutuhkan biaya besar ditambah cita-cita kami untuk meningkatkan taraf kehidupan ibu-ibu murid kami, uang yang dikumpulkan tiap bulan tidak cukup membeli beras yang meningkat mahal.. dilain pihak banyak murid yang terjerat rentenir sehingga pemberian beras diturunkan dengan hadiah berupa tabungan yaitu 6 kali kehadiran mendapat uang rp. 15.000,- (sekali hadir Rp. 2.500/seharga teh botol) serta mengajar murid-murid agar menabung sehingga apabila mereka membutuhkan uang dapat mengambil hadiah tabungan maupun tabungannya dan tidak meminjam ke rentenir lagi yang memberlakukan bunga yang tinggi, kemudian uang hadiah tabungan + tabungan murid + ZIS dari teman-teman digunakan untuk pinjaman modal bergulir (tanpa bunga dan biaya administrasi).

Walaupun murid sudah banyak , setiap pemberian kupon sembako/Fitrah/Qurban di mesjid Baiturrachim aku tidak bosan selalu mengajak ibu-ibu yang berebut minta kupon menjadi murid untuk belajar akhlak, iqro, al Qur’an serta mengerti terjemahan Al Qur’an, dengan ajakan tersebut di tahun 2007 murid bertambah menjadi 239 murid, karena ada perasaan sedih melihat mereka berebutan ..rasanya kita sebagai umat Islam yang diberikan rizki yang cukup dari Allah tidak peduli atas nasib mereka..lebih baik kerja keras mencari dana untuk membiayai mereka daripada mereka tetap berakhlak tidak terpuji…juga hati ini merasa sedih melihat mesjid yang telah susah payah dibangun dengan biaya tinggi hanya ramai dan ‘’hidup” di bulan Ramadhan saja sementara di bulan-bulain lain sunyi dari kegiatan untuk kaum dhuafa… sementara pada zaman Rasulullah SAW Mesjid merupakan pusat kegiatan…

Alhamdulillah dengan kasih sayang, kajian/terjemahan Al Qur’an serta tausyiah Sabar Syukur dan Senyum yang kami tebarkan dengan cara sederhana, mereka yang semula mengaji karena kupon/beras/tabungan kini mulai tertarik mencari ilmu, kini mereka begitu bersemangat hadir untuk belajar serta mengatakan bahwa belum ada mesjid yang mengajarkan Iqro untuk Ibu-ibu serta terjemahan Al Qur’an untuk kehidupan sehari-hari sehingga mereka ingin belajar dengan baik, dan bagi murid kegiatan mesjid Baiturrachim ternyata sangat berarti karena mereka dapat bersilaturrachim antar kampung yaitu Kampung Bojong, Gandaria, Tipar dan pinggir kali yang ternyata ada pertautan Saudara atau teman …selain itu mereka menganggap kegiatan Selasa malam sebagai sebagai kegiatan peduli atas masyarakat lingkungan, bahasa betawinya ibu-ibu gedongan bergaul dengan ibu-ibu kampung.

Bertahun-tahun kami menyelenggarakan kegiatan pengajian Bekal menuju akhirat tanpa bantuan uang mesjid serupiah pun karena mesjid mengira bahwa program kegiatan pembinaan tersebut dibiayai oleh kantorku karena memang aku tidak pernah minta biaya dari mesjid hanya meminta beberapa paket sembako ke kantor untuk diberikan kepada murid2 karena memang salah satu kegiatan binrohis kantor menjelang iedul fitri adalah memberikan paket2 sembako kepada kaum dhuafa, kujelaskan bahwa biaya kegiatan adalah dari ZIS teman-teman dekat yang peduli atas pembinaan kaum dhuafa, dan karena sudah mulai kesulitan mencari biaya yang sudah semakin besar akhirnya pada bulan Oktober 2007 minta bantuan mesjid.

Alhamdulillah mesjid Baiturrachim memberikan biaya operasional sebesar Rp. 3 juta per bulan, maka uang tersebut digunakan untuk membiayai 12 guru yang mengajar murid sehingga aku kini hanya memberi tausyiah dan mengawasi saja tidak pusing lagi mengajar murid yang banyak serta digunakan juga untuk menambah pemberian pinjaman modal bergulir.
Sementara sumbangan dari teman yang non muslim yang ikut simpati atas kegiatanku digunakan untuk membantu bayaran sekolah anak-anak murid2 yang mempunyai prestasi juara Ke 1 s/d 3, juga untuk biaya masuk sekolah, seragam, dll anak asuh yang ingin sekolah tetapi orang tuanya tidak mampu (baru satu anak asuh yaitu anak murid yang suaminya tukang rongsokkan ) … kedepan apabila ada tambahan sumbangan lagi akan kutingkatkan bayaran sekolah bagi yang berprestasi 10 besar… serta tambahan anak asuh.

Administrasi anak asuh, bayaran sekolah, absen murid/guru, hadiah buku Iqro, Juz’amma, mukena, sajadah, kaca mata baca, debet tabungan, kredit modal bergulir yang pembayarannya tiap minggu ditangani oleh Burda keponakanku… dialah yang menangani urusan administrasi yang lumayan rumit tersebut seusai pulang kerja dengan tekun dan rapi ..Burda mengatakan dia ingin mendapat juga bekal menuju akhirat, oleh karena dia tidak bisa membantu dengan uang hanya bisa membantu tenaga yaitu pelaksanaan administrasi yang baik agar pertanggungjawaban jelas ..

Burdalah Inspirator dan Motivatorku …karena bila sedang cape, kesal dan malas, setan sering mengangguku dengan tidak mau mengurus lagi program ini …untuk apa mengurus dhuafa dengan susah payah ..tetapi Burda selalu mengingatkan ..Tante ingat Bekal menuju akhirat…ayo kita cari bekal menuju akhirat , tante memimpin, membiayai dan mencari uang sementara saya administrasi nya …kapan lagi waktu kita mencari bekal menuju akhirat.. sebelum terlambat tante… Mendengar kata-katanya aku kembali bersemangat lagi karena merasa malu bila Burda yang masih muda dan sangat rumit mengerjakan administrasi begitu semangat sementara aku hanya memberi tausyiah, membiayai dan mencari dana kadang-kadang suka mengeluh…

Alhamdulillah jumlah murid kini sudah 282 murid dan Allah rupanya meridhoi program kegiatan Selasa malam, di kantorku hujan dan banjir tetapi di daerah rumah hujan tidak pernah turun setiap hari Selasa sehingga murid bisa datang ke mesjid, tidak berbecek ria maklumlah rumah2 mereka agak jauh , jarak yang terdekat radius 1 km ..(data di absensi ternyata di musim hujan setiap selasa malam kehadiran full tidak ada absen).. itulah keajaiban …demikian pula Allah selalu memberikan rezeki kepada mereka.. karena pernah tidak mempunyai dana sama sekali untuk membeli sembako di bulan ramadhan (sebagai hadiah belajar satu tahun penuh)…lalu kusisihkan sebagian Tabungan/THR, ajaib dalam tempo seminggu dengan mudahnya mendapat ZIS dari teman-teman dekat untuk membiayai pemberian sembako kepada mereka …

Dan yang lebih ajaib lagi adalah murid murid yang kehidupannya sudah membaik tidak menjadi dhuafa lagi kini menyerahkan hadiah/sembako/ zakat fitrah/daging qur’ban bagian yang selalu mereka peroleh kepada Tetangga/saudara mereka yang tidak mampu ..bahkan ada beberapa murid tabungannya cukup besar… saat ditanya mengapa mereka tidak menabung di Bank mereka mengatakan menabung di pengajian lebih bermanfaat karena uangnya dapat menolong/digunakan sebagai pinjaman modal bergulir teman-teman yang lain ..alhamdulilllah tujuan yang kucita-citakan telah tercapai yaitu beberapa penerima zakat kini telah menjadi pemberi zakat namun demikian mungkin sebagian kecil diantara murid masih ada juga yang belum berhati lurus dan bersih.

Pembagian sembako/zakat fitrah di mesjid Baiturrakhim kini tidak seperti peristiwa pasuruan, mereka kini sangat tertib yaitu melaksanakan sholat ashar berjamaah terlebih dahulu kemudian mendoakan para pemberi ZIS lalu menunggu giliran pembagian per kelompok …karena setiap kelompok telah ada ketua kelompoknya…dan rumahku yang selalu dikepung para pencari kupon kini sangat mudah menjawabnya …yaitu dengan mengajak mereka mengaji… ayo kita mengaji di mesjid setiap selasa malam nanti ibu-ibu akan mendapatkan rezeki dari Allah dengan tidak perlu mencari-cari kupon dan berebutan.. ibu-ibu malah akan diperhatikan serta mendapatkan kemudahan-kemudahan …

Memang program kegiatan Bekal Menuju Akhirat ini masih harus disempurnakan lagi, namun paling tidak, program ini merupakan salah satu usaha/sarana untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat , sehingga harus berupaya semaksimal mungkin agar program berkembang dan berkembang lagi serta dapat disosialisasikan di daerah-daerah lain…karena di usia kita yang hampir senja ini sudah tidak waktunya lagi mengumpulkan bekal popularitas di dunia, usaha lebih baik di prioritaskan mencari bekal menuju akhirat dan…. tulisan ini bukan bermaksud riya, tetapi alangkah indahnya apabila kita sebagai kaum yang diberikan kecukupan rezeki memberikan hak-hak mereka dari rezeki yang diterima dari Allah SWT dengan cara membina para dhuafa dan memakmurkan mesjid diluar bulan Ramadhan serta menganggap bahwa kaum jompo maupun dhuafa yang ada di lingkungan kita adalah menjadi bagian yang sederajad sebagai sesama muslim.

Cita-citaku yang akan datang,.. prioritas adalah memberikan pinjaman kepada murid2 tidak hanya untuk modal bergulir saja tetapi juga untuk kebutuhan lain yang bukan konsumtif… karena aku sangat terenyuh atas cerita murid2 yang telah tidak menjadi dhuafa lagi yang mengatakan bahwa banyak murid-murid yang terjerat rentenir karena butuh uang dalam waktu dekat misal untuk berobat, bayar uang sekolah, memberikan orang tua dll .. sementara tabungannya tidak cukup dan sarannya agar pengajian membantu murid dari jeratan rentenir sangat kuperhatikan .. alhamdulillah ZIS untuk sembako diperoleh cukup besar, sehingga dapat disisihkan untuk membantu agar murid2 yang terkena rentenir meminjam kepada pengajian  (yang tanpa bunga dan biaya administrasi) untuk kemudian segera melunasi pinjaman dari rentenir dan membayar kepada pengajian setiap minggu tanpa was-was mendengar umpatan2 kotor dari rentenir..

Cita-cita kedua adalah membuka pelajaran iqro, belajar tajwid dan kajian Al Qur’an untuk Bapak-bapak karena banyak suami-suami murid2 maupun tukang ojek yang mangkal di pangkalan lingkungan rumah minta dibuka kelas untuk Bapak-bapak… dan yang ketiga mencoba membina anak-anak dari murid2 yang telah lulus SMA tetapi tidak bisa bekerja untuk ikut seleksi agar lulus memperoleh pendidikan wira usaha gratis di Klaten milik Ustadz Jamil Azzaini …Insya Allah…

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

2 comments

  1. ISMAILA TOMPO says:

    Ass, wr. wb

    saya sangat senang membaca artikel ibu yang sangat bernuangsa spritual.
    ibu yang baik hati. Berkenanlah mampir ke blog saya, saya ingin memperkenalkan kepada ibu sebuah metode mengaji kilat dalam 30 hari anak-anak maupun orang dewasa akan mampu membaca Al-Qur’an dengn fasih sesuai tajwid. Sekali lagi ibu hanya 30 hari belajar, insya Allah akan bisa membaca Al-Qur’an. Alangkah bahagianya sya kalau ibu bisa membantu dalam hal penyebaran metode kami ini di daerah ibu.
    kami mencari juga distributor di berbagai daerah
    saya rasa terlalu panjang ibu. makasih mau membaca koment saya ini yang tiada lain untuk promosi hehehehe.
    wassalam

    February 6th, 2009 at 3:43 pm

  2. husna hauri zakiah says:

    salam,sebelumnya saya minta maaf terlebih dahulu. saya adalah seorang anak dari orang tua yang banyak anak dan mempunyai banyak hutang. saya ingin ibu membantu saya untuk mencarikan orang tua asuh yang berkenan untuk memberikan sumbangan saya untuk biaya pendidikan kuliah,hhe

    February 9th, 2009 at 8:59 am

Leave a comment


Dewi Poedjiastuti
Ibu Rumah Tangga, Karyawati dan juga Mahasiswi. Bekerja dan bertempat tinggal di Ibukota Jakarta.  Web site ini merupakan pelabuhan ideku Apa yang kurasakan dan ingin kunyatakan dalam bentuk tulisan ada dalam web site ini. Lebih Detail >>



Kategori :
Posting :
Komentar :


Hak Cipta © 2006-2007 Dewi-Poedjiastuti.com
Webhosting didukung oleh C211 Web Services