“DI JEWER”


Posted in HARAPANKU by Dewi

Di jewer adalah kata yang sangat sederhana yang berarti daun telinga di dilipat ke kiri dan ke kanan.. untuk anak-anak kecil sangat takut untuk di jewer karena berarti telah melakukan suatu kesalahan dan mendapat hukuman atas kesalahan tersebut… tetapi bagi orang dewasa kata di jewer merupakan suatu bentuk kasih sayang untuk memberikan motivasi melaksanakan suatu pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi.

Kata-kata “awas tak jewer kamu kalau sampai akhir tahun ini proposal disertasi belum selesai, dewi harus punya time schedule agar tugas tersebut selesai” kata-kata tersebut memacu semangatku memulai lagi membuat judul-judul disertasi untuk diajukan kepada promotorku Prof Made dan co promotor Prof Imam setelah judulku di tolak 6 bulan yang lalu.

Dari kata di jewer itulah aku menghubungi sahabatku satu kelompok di kelas A Pa Nanto yang paling hebat di kelas… Saat kutanya ternyata beliau juga belum mengajukan judul malah belum mengganti co promotor Pa Pascalis alm.. Pa Nanto minta aku menghubungi Prof Billy karena ingin minta izin agar Pa Billy mau mengganti Pa Pascalis.. kuhubungi teman-teman untuk cari hp Prof Billy ternyata sulit juga Pa Herly yang bekerja di Mabes AU tempat Prof Billy dulu bekerja memberikan nomor yang salah… namun akhirnya aku bisa menghubungi Prof Billy untuk makan siang di Grand Melia sesuai permintaan Pa Nanto.

Dari penuturan Prof Billy akhirnya aku dan Pa Nanto sepakat harus membuat beberapa alternatif judul disertasi, masing-masing judul dengan 4 variable, dan masing variable harus di lampirkan copy teori dari 7 text book yang mendukung variable tersebut.. jadi dari 4 variable harus menyiapkan 28 text book jadi kalau membuat 3 alternatif saja dengan minimal 6 variabel harus menyiapkan 42 copy teori/text book… oow..oow… harus berburu 42 text book oh my God…

Pa Nanto berulang ulang berkata bahwa yang sulit adalah memulai kemudian mengajakku untuk saling mendukung dan kami seperti anak kecil berjabatan tangan berjanji untuk bersama-sama memulai dan saling sharing.

Alhamdulillah saat kutelepon sahabat-sahabatku para pencinta buku mereka bersedia untuk meminjamkan buku-buku nya untuk kucopy teori-teori yang mendukung variable yang kupilih… hidupku kini dikelilingi oleh buku-buku tebal .. namun karena kata-kata di jewer tadi walaupun dikelilingi buku tebal-tebal aku tetap riang dan bersemangat… maklum takut di jewer …

Sebagai penyeimbang kutelepon teman-teman yang proposal disertasinya sudah disetujui oleh Promotor ternyata Pa Nurhasim sudah mengumpulkan 60 buah text book untuk mendukung variablenya.. Pa Ketut A sedang menunggu konfirmasi Prof Made tahap uji coba peneltian..

Menurut Pa Ketut A perjalananku masih panjang sekali.. maklum tahap awal adalah pengajuan judul dulu itupun memakan waktu lama karena Pa Harley, Pa Alifuddin, Pa Syahban, Pa Haposan, Pa Endhi dll judulnya disetujui setelah 10 kali bolak balik ke Prof Made… bila judul disetujui lalu membuat proposal disertasi itupun bolak balik juga, menurut Pa Syahban dan Pa Alifuddin dari Makassar mereka bolak balik ke jakarta 6 kali baru proposalnya disetujui. Mereka sekarang sedang menunggu waktu antrian untuk seminar proposal disertasi…

Setelah seminar proposal disetujui, mengajukan susunan teori bila disetujui baru mengajukan penelitian uji coba.. setelah hasil penelitian uji coba disetujui kemudian mengajukan penelitian sebetulnya…bila disetujui baru melaksanakan proses penelitian sebetulnya dan setelah hasil penelitian sebetulnya disetujui dapat mendaftarkan waktu antrian untuk seminar hasil penelitian… setelah disetujuinya seminar hasil penelitian baru mendaftarkan waktu antrian untuk ujian tertutup … bila lulus ujian tertutup maka mendaftarkan kembali waktu untuk ujian terbuka…oohhh perjalanan panjang….

Pa Ketut A juga mengatakan bahwa Pa Ketut B yang telah selesai susunan teori oleh Pa Made diminta untuk menyusun dari awal lagi karena teori yang mendukung variable tidak tepat Pa Ketut A mengatakan “Dewi kumpulkan teman-teman ayo kita bertemu hari Sabtu di kantor saya, kita harus saling sharing karena rasanya berat kalau berjalan sendiri… ajakan itu kusambut positif dan aku telah menghubungi beberapa teman lain untuk memenuhi ajakan Pa Ketut.

Saat kuceritakan proses tersebut kepada yang akan menjewerku, beliau mengatakan proses tersebut akan tidak terasa dilalui apabila kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan hati yang riang. dan ikhlas… anggaplah itu bukan beban tetapi sebagai proses pembelajaran ke tahap yang lebih tinggi ..dan itu semua memerlukan endurance yang kuat…

Beliau juga berjanji akan memberikan bimbingan dari segi praktisi karena untuk penulisan disertasi tidak melulu dari segi teori dibutuhkan pula pandangan dari segi praktisi untuk melengkapi teori yang ada..
Bimbingan beliau yang ada dalam posisi “helicopter view” tentunya akan sangat bermanfaat bagiku untuk belajar dan belajar…

Alhamdulillah perjalanan hidup yang kualami dari hari ke hari menambah keyakinanku bahwa ada rencana Allah SWT yang tidak diketahui oleh manusia semenit ke depan karena kini sepertinya Allah sedang memberikanku kebahagiaan di dunia yang tidak ternilai ….Begitu banyak kemudahan yang kuperoleh… sahabat-sahabatku semua memberikan perhatian dan dukungan padahal mereka adalah orang-orang yang sibuk. .. bisa kubayangkan bagaimana beliau-beliau memilih dan membawa buku-buku yang ada di rumahnya untuk dipinjamkan kepadaku, bila tidak dengan hati yang penuh keikhlasan tentunya sulit…

Temanku Meiske yang selalu mendampingi untuk mengambil buku-buku tersebut serta berkenalan dengan beliau-beliau berkata…”Dewi teman-temanmu luar biasa mendukungmu… kamu harus selalu bersyukur bahwa ternyata persahabatan yang kamu jalin sejak muda tidak terputus silaturachimnya karena jabatan… saya melihat mereka menolongmu dengan ikhlas…”

Mungkin inilah panen yang kuperoleh yaitu apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita peroleh…maka marilah kita semua segera menanam kebaikan maka kebaikan yang akan kita panen .

Kini hari-hariku dirumah dipenuhi oleh kegiatan membaca dan membaca… setelah kubaca dan kutandai ..kuberikan kepada Burda Barida keponakanku tersayang untuk diketik… kemudian kukompulasi untuk kuedit kembali…aku harus mencicil sedikit demi sedikit bahan-bahan yang ada, agar tidak betumpuk dan merasa berat nantinya, karena aku yakin bahwa proses yang panjang membutuhkan kerja keras ..dan untuk menjaga kesehatan janganlah sesuatu dipaksakan tetapi kerjakanlah sekarang juga dimulai dari hal yang paling kecil,

“Ya Allah terima kasih dan terima kasih , puji syukur kupanjatkan kepadamu karena atas pertolongaMulah kemudahan-kemudahan ini terjadi..”

Ungkapan rasa Terima kasih dan terima kasih yang tak terhingga kepada yang akan menjewerku… karena dimulai dengan kata jewer itulah membangunkan aku dari tidur dan perasaan tenang-tenang saja… sementara argo pembayaran semester kuliah tetap berjalan menipiskan tabunganku… apabila aku bersemangat dan kerja keras tentunya dapat segera menyelesaikan program ini dan tabungan dapat digunakan untuk kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat……..

Insya Allah…..

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

6 comments

  1. Mas Yanto says:

    “BEL GEDUWEL BEH!”

    “Bel Geduwel Beh!” secara leksikal, baik akar kata maupun lingua-francanya, sebenarnya nir-maknawi. Namun justru dalam ketiadaan makna itulah ungkapan ini secara artifisial merupakan metafora (dalam filosofis Jawa) tentang penggambaran perilaku seseorang yang menyimpang dari pakem / nilai-nilai etis kewajaran umum. Seseorang yng berada atau memberadakan diri dalam suatu kondisi, dimana ia menjadi bukan sejatinya dirinya lagi; melainkan ia merasa atau menumbuhkan rasa menjadi superior dari keadaan bathin yang sebenarnya inferior.

    Adalah Petruk, tokoh dalam jagad pewayangan, merupakan simbol seorang hamba / rakyat jelata. Tetapi bukan sembarang hamba, karena ia adalah pengejawantahan dari seorang ”dewa” untuk menjaga keselarasan dan keserasian umat manusia. Maka Petruk adalah juga metafora seorang manusia biasa yang mengemban tugas rohaniah.

    Ketika Petruk masih menjadi ”Petruk”, hidupnya dalam lingkaran harmoni bersama saudara-saudaranya Gareng, Bagong dan ayahnya Semar. Selaras, serasi dan seimbang antara jagad alit dirinya atau mikro-kosmos dengan jagad ageng atau makro-kosmos (dunia sekitar) seperti dalam teori kosmik-monisme yang dikupas Niel Mulder. Saat itulah ketika Petruk berada dalam ”kepetrukan” hakiki, ia mendapatkan bahagia sejati.

    Tetapi entah angin apa yang bertiup; tiba-tiba suatu ketika Mas Petruk mengalami ”mobilitas vertical”. Ia tiba-tiba menjadi digdaya, sehingga merasa tidak hanya menjadi sekedar Petruk. Ia menjadi raja di desa Kerajaan Ngrancang Kencana, berjuluk : PRABU BEL GEDUWEL BEH!
    Saat Petruk menjadi Prabu Bel Geduwel Beh itulah ia menjadi ”liar”. Ia lalu menganut aji mumpung. Ia lupa asal-usulnya, lupa saudara-saudaranya, tak ingat sahabat-sahabatnya. Senyampang bisa mempersulit orang, yang gampang dibuat sulit. Senyampang bisa memecat atau menggeser posisi karyawannya, ia semena-mena memecat atau memutasi karyawan yang tidak sepaham dengan dia. Senyampang tidak perlu memberi, mengapa harus memberi. Ia selalu gila hormat. Tak henti-hentinya ia mengais dan menimba kehormatan, kendati kehormatan iotu sebenarnya bukan miliknya.
    Tatanan komunitasnya dijungkir-balikkan. Sosial order menjadi kacau. Tahapan-tahapan perkembangan sosial seperti yang digambarkan Thomas Hobbes menjadi tidak berlaku. Norma sosial dalam ranah publik dibuat awut-awutan seperti digambarkan Vladimir Daklin tentang ”era vagrantifikasion”.
    Kala Petruk manjadi Bel Geduwel Beh itulah keselarasan mikro-kosmosnya tidak serasi lagi dengan makro-kosmosnya, sehingga ia lalu oleng, hilang kendali. Ia lekang dari jati diri. Ia EDAN!

    BEL GEDUWEL BEH adalah suatu kondisi psikologis dari seseorang yang tidak dapat menjadi keseimbangan antara keselarasan diri dengan dunia / komunitas sekitar. Senyampang bisa berbuat sesuatu, ia lakukan seuatu (tak terukur). Atau sebaliknya, senyampang tidak perlu berbuat sesuatu (yang baik), ia tidak merasa risi untuk tidak berbuat sesuatu (yang baik).

    Di sini terasa ada ”ambiguitas analogi”. ”Jangan sombong, jangan memegahkan diri, berlakulah rendah hati, berbuatlah baik dan saling mengasihi antar sesamamu …” adalah nasehat Kitab Suci yang merupakan aksioma yang tak dapat ditawar oleh para penghayatNya. Itulah postulat iman. Dan postulat iman, seharusnyalah membuat garis dikotomi yang jelas : bukan ini dan bukan itu, berbuat ini dan tidak berbuat itu. Tetapi dalam penghayatannya sering seperti perilaku ”kupu-kupu kuning”; yng setelah bertelur ia terbang entah kemana, tidak merasa perlu kembali menengok telurnya lagi. Bahwa bertelur adalah kewajiban dasariah bagi kupu-kupu kuning; tetapi serentak setelah itu ia pergi, terbang meninggalkan perbuatan / tanggung jawab dasariah yang lain.
    Perilaku Petruk menjadi BEL GEDUWEL BEH adalah metafora kita. Kondisi ini bisa menjangkiti siapa saja, kapan saja dan dimana saja seperti coca cola. Masalahnya bukan pertanyaan ”mengapa” atau ”bagaimana”; tetapi dapatkah kita segera meretas sadar, mana kala perilaku menyimpang itu telah terfragmentasi dalam perilaku kita.
    Maka, marilah kita merenung :

    Idealnya, hidup kita dapat seperti pohon beringin yang tumbuh di puncak bukit. Kuat, gagah dan rindang. Tetapi realitasnya tidak semua dapat menjadi pohon beringin …
    Bila demikian, jadilah saja pojhon peneduh di pinggir jalan, yang dapat menanungi mereka yang kepanasan …
    Bila tidak bisa menjadi pohon peneduh di pinggir jalan, jadillah saja belukar, tetapi belukar terbaik, yang tumbuh di tepi danau; berfungsi menahan erosi …
    Bila tidak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput; tetapi rumput terbaik, yang tumbuh untuk memperkuat tanggul pinggir jalan …
    Bila tidak mampu jdi jalan raya, jadilah saja jalan setapak; yang dapat menghantar orang lain menuju ke sumber mata air.
    Tidak semua menjadi nakhoda; tentu perlu ada awak kapalnya. Bukan karena besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya martabat seseorang; tetapi apakah ia mampu berguna bagi orang lain sesuai dengan kadar atau porsi jati dirinya.
    Maka jadilah saja dirimu; sebaik-baiknya dirimu sendiri …(t.soeharyanto)

    November 9th, 2008 at 6:53 am

  2. dewi says:

    Mas Yanto yang baik hati…

    Terima kasih atas kunjungannya ke web saya.. wah tulisannya bagus sekali bernilai tinggi dan ditulis dengan bahasa yang tinggi… sementara tulisan-tulisan di web saya ditulis dengan semau hati…

    Saya harus banyak belajar bagaimana menulis yang bernilai.. bolehkah saya membaca klipping2 tulisannya di media jawa post?

    Sekali lagi terima kasih yaa… btw hari minggu 9 Nov saya juga banyak belajar dari Mas Tono di Bdg… rupanya Mas Tono, Mas Yanto dll (bersaudara) pengalamannya luar biasa….hebat-hebat… salam untuk keluarga di Malang dan mbak tati yaa…

    November 9th, 2008 at 11:29 pm

  3. xxrejectedxx says:

    Menjadi diri sendiri adalah hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Mereka bahkan pergi bertapa ke gunung tertinggi dan menjadi completely absence di dunia ini. Dalih untuk mencari tuhan ataupun mencari kebenaran sejati sebenarnya didasarkan untuk mencari jawab atas pertanyaan terbesar di dunia ini: ’siapakah sebenarnya kita?’

    Sigmund Freud menghabiskan 90% hidupnya untuk menjawab pertanyaan ini. Dia menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah untuk membantu manusia menyelami pemikiran dan perilaku mereka. Tetapi apakah Sigmund Freud sudah mengerti siapakah sebenarnya dia? The blind is leading the blind.

    Untuk menjadi diri sendiri pada kenyataannya adalah mengimitasi perbuatan dan perilaku orang lain. Kita adalah bukan diri kita sendiri. Kita adalah cerminan orang tua dan masyarakat yang meng-influence kita. Kita telah didikte sedemikian rupa oleh orang tua dan masyarakat untuk menjadi selaras dengan norma. Norma yang diterima oleh masyarakat.

    Atas dasar apa kita mengucilkan orang gila? Atau atas dasar apa kita menghakimi anak-anak punk di pinggir jalan? Mungkin mereka sedang mencari jati diri mereka. Dan yang sebaiknya kita lakukan adalah tetap berlalu dan ikut mencari siapa diri kita sebenarnya.

    February 10th, 2009 at 9:53 am

  4. dewipm says:

    Mas xxrejectedxx..

    Terima kasih sudah berkunjung ke web saya dan tulisan anda sangat bagus sekali..

    Saya ingin belajar banyak… tolong berika indetitasnya..agar kita dapat sharing

    terima kasih yaa..

    salam,

    dewi

    February 28th, 2009 at 9:22 am

  5. xxrejectedxx says:

    ibu dewi yang baik,

    saya putranya bpk hariyanto kok. saya juga harus masih banyak belajar, terutama dari ayah saya.

    terima kasih kembali untuk ibu dewi, tulisan2 ibu dewi juga sangat bagus. Nulis lagi ya!

    February 28th, 2009 at 11:38 am

  6. Dewi says:

    Mas Dika yang baik….

    Malu rasanya putra Mas yanto seorang penulis yang handal membaca tulisan2 saya yang ditulis semaunya tanpa ilmu…

    Saya hari ini sudah baca blognya Mas Dika lho baik blog yang baru maupun lama..karena saya amat penasaran dg xxrejectedxx dan akhirnya setelah searching saya mengenal bahwa xxrejectedxx adalah Dika Widiandaru.

    Membaca blog Mas Dika saya jadi ingat anak saya Iqbal..mirip sekali..saat di SMA saya sering dipanggil guru..setelah di UGM sangat berbeda jauh..seperti Mas Dika tulisannya bagus-bagus.

    Kesempatan saya menulis hanya Sabtu dan Minggu tapi skrg ini sibuknya luar biasa hari liburpun saya diluar kota jadi ide utk menulis sudah hilang..dan hari ini khusus searching profil Mas Dika hehe..

    Ok selamat belajar yaa..semoga sukses.. dan bisa menggantikan papa..

    salam

    dewi

    February 28th, 2009 at 12:51 pm

Leave a comment


Dewi Poedjiastuti
Ibu Rumah Tangga, Karyawati dan juga Mahasiswi. Bekerja dan bertempat tinggal di Ibukota Jakarta.  Web site ini merupakan pelabuhan ideku Apa yang kurasakan dan ingin kunyatakan dalam bentuk tulisan ada dalam web site ini. Lebih Detail >>



Kategori :
Posting :
Komentar :


Hak Cipta © 2006-2007 Dewi-Poedjiastuti.com
Webhosting didukung oleh C211 Web Services