<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.0.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: &#8220;DI JEWER&#8221;</title>
	<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/</link>
	<description>dewi place</description>
	<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 22:14:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.3</generator>

	<item>
		<title>by: Dewi</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-417</link>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 12:51:06 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-417</guid>
					<description>Mas Dika yang baik....

Malu rasanya putra Mas yanto seorang penulis yang handal membaca tulisan2 saya yang ditulis semaunya tanpa ilmu...

Saya hari ini sudah baca blognya Mas Dika lho baik blog yang baru maupun lama..karena saya amat penasaran dg xxrejectedxx dan akhirnya setelah searching saya mengenal bahwa xxrejectedxx adalah Dika Widiandaru.

Membaca blog Mas Dika saya jadi ingat anak saya Iqbal..mirip sekali..saat di SMA saya sering dipanggil guru..setelah di UGM sangat berbeda jauh..seperti Mas Dika tulisannya bagus-bagus.

Kesempatan saya menulis hanya Sabtu dan Minggu tapi skrg ini sibuknya luar biasa hari liburpun saya diluar kota jadi ide utk menulis sudah hilang..dan hari ini khusus searching profil Mas Dika  hehe..

Ok selamat belajar yaa..semoga sukses.. dan bisa menggantikan papa..

salam

dewi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Dika yang baik&#8230;.</p>
<p>Malu rasanya putra Mas yanto seorang penulis yang handal membaca tulisan2 saya yang ditulis semaunya tanpa ilmu&#8230;</p>
<p>Saya hari ini sudah baca blognya Mas Dika lho baik blog yang baru maupun lama..karena saya amat penasaran dg xxrejectedxx dan akhirnya setelah searching saya mengenal bahwa xxrejectedxx adalah Dika Widiandaru.</p>
<p>Membaca blog Mas Dika saya jadi ingat anak saya Iqbal..mirip sekali..saat di SMA saya sering dipanggil guru..setelah di UGM sangat berbeda jauh..seperti Mas Dika tulisannya bagus-bagus.</p>
<p>Kesempatan saya menulis hanya Sabtu dan Minggu tapi skrg ini sibuknya luar biasa hari liburpun saya diluar kota jadi ide utk menulis sudah hilang..dan hari ini khusus searching profil Mas Dika  hehe..</p>
<p>Ok selamat belajar yaa..semoga sukses.. dan bisa menggantikan papa..</p>
<p>salam</p>
<p>dewi
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: xxrejectedxx</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-416</link>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 11:38:44 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-416</guid>
					<description>ibu dewi yang baik,

saya putranya bpk hariyanto kok. saya juga harus masih banyak belajar, terutama dari ayah saya.

terima kasih kembali untuk ibu dewi, tulisan2 ibu dewi juga sangat bagus. Nulis lagi ya!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ibu dewi yang baik,</p>
<p>saya putranya bpk hariyanto kok. saya juga harus masih banyak belajar, terutama dari ayah saya.</p>
<p>terima kasih kembali untuk ibu dewi, tulisan2 ibu dewi juga sangat bagus. Nulis lagi ya!
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: dewipm</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-415</link>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 09:22:09 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-415</guid>
					<description>Mas xxrejectedxx..

Terima kasih sudah berkunjung ke web saya dan tulisan anda sangat bagus sekali..

Saya ingin belajar banyak... tolong berika indetitasnya..agar kita dapat sharing

terima kasih yaa..

salam,

dewi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas xxrejectedxx..</p>
<p>Terima kasih sudah berkunjung ke web saya dan tulisan anda sangat bagus sekali..</p>
<p>Saya ingin belajar banyak&#8230; tolong berika indetitasnya..agar kita dapat sharing</p>
<p>terima kasih yaa..</p>
<p>salam,</p>
<p>dewi
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: xxrejectedxx</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-396</link>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 09:53:32 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-396</guid>
					<description>Menjadi diri sendiri adalah hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Mereka bahkan pergi bertapa ke gunung tertinggi dan menjadi completely absence di dunia ini. Dalih untuk mencari tuhan ataupun mencari kebenaran sejati sebenarnya didasarkan untuk mencari jawab atas pertanyaan terbesar di dunia ini: 'siapakah sebenarnya kita?'

Sigmund Freud menghabiskan 90% hidupnya untuk menjawab pertanyaan ini. Dia menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah untuk membantu manusia menyelami pemikiran dan perilaku mereka. Tetapi apakah Sigmund Freud sudah mengerti siapakah sebenarnya dia? The blind is leading the blind. 

Untuk menjadi diri sendiri pada kenyataannya adalah mengimitasi perbuatan dan perilaku orang lain. Kita adalah bukan diri kita sendiri. Kita adalah cerminan orang tua dan masyarakat yang meng-influence kita. Kita telah didikte sedemikian rupa oleh orang tua dan masyarakat untuk menjadi selaras dengan norma. Norma yang diterima oleh masyarakat.

Atas dasar apa kita mengucilkan orang gila? Atau atas dasar apa kita menghakimi anak-anak punk di pinggir jalan? Mungkin mereka sedang mencari jati diri mereka. Dan yang sebaiknya kita lakukan adalah tetap berlalu dan ikut mencari siapa diri kita sebenarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi diri sendiri adalah hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Mereka bahkan pergi bertapa ke gunung tertinggi dan menjadi completely absence di dunia ini. Dalih untuk mencari tuhan ataupun mencari kebenaran sejati sebenarnya didasarkan untuk mencari jawab atas pertanyaan terbesar di dunia ini: &#8217;siapakah sebenarnya kita?&#8217;</p>
<p>Sigmund Freud menghabiskan 90% hidupnya untuk menjawab pertanyaan ini. Dia menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah untuk membantu manusia menyelami pemikiran dan perilaku mereka. Tetapi apakah Sigmund Freud sudah mengerti siapakah sebenarnya dia? The blind is leading the blind. </p>
<p>Untuk menjadi diri sendiri pada kenyataannya adalah mengimitasi perbuatan dan perilaku orang lain. Kita adalah bukan diri kita sendiri. Kita adalah cerminan orang tua dan masyarakat yang meng-influence kita. Kita telah didikte sedemikian rupa oleh orang tua dan masyarakat untuk menjadi selaras dengan norma. Norma yang diterima oleh masyarakat.</p>
<p>Atas dasar apa kita mengucilkan orang gila? Atau atas dasar apa kita menghakimi anak-anak punk di pinggir jalan? Mungkin mereka sedang mencari jati diri mereka. Dan yang sebaiknya kita lakukan adalah tetap berlalu dan ikut mencari siapa diri kita sebenarnya.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: dewi</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-324</link>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 23:29:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-324</guid>
					<description>Mas Yanto yang baik hati...

Terima kasih atas kunjungannya ke web saya.. wah tulisannya bagus sekali bernilai tinggi dan ditulis dengan bahasa yang tinggi... sementara tulisan-tulisan di web saya ditulis dengan semau hati... 

Saya harus banyak belajar bagaimana menulis yang bernilai.. bolehkah saya membaca klipping2 tulisannya di media jawa post?

Sekali lagi terima kasih yaa... btw hari minggu 9 Nov saya juga banyak belajar dari Mas Tono di Bdg... rupanya Mas Tono, Mas Yanto dll (bersaudara) pengalamannya luar biasa....hebat-hebat... salam  untuk keluarga di Malang dan mbak tati yaa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Yanto yang baik hati&#8230;</p>
<p>Terima kasih atas kunjungannya ke web saya.. wah tulisannya bagus sekali bernilai tinggi dan ditulis dengan bahasa yang tinggi&#8230; sementara tulisan-tulisan di web saya ditulis dengan semau hati&#8230; </p>
<p>Saya harus banyak belajar bagaimana menulis yang bernilai.. bolehkah saya membaca klipping2 tulisannya di media jawa post?</p>
<p>Sekali lagi terima kasih yaa&#8230; btw hari minggu 9 Nov saya juga banyak belajar dari Mas Tono di Bdg&#8230; rupanya Mas Tono, Mas Yanto dll (bersaudara) pengalamannya luar biasa&#8230;.hebat-hebat&#8230; salam  untuk keluarga di Malang dan mbak tati yaa&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Mas Yanto</title>
		<link>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-321</link>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 06:53:52 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.dewi-poedjiastuti.com/2008/11/03/di-jewer/#comment-321</guid>
					<description>“BEL GEDUWEL BEH!”

“Bel Geduwel Beh!” secara leksikal, baik akar kata maupun lingua-francanya, sebenarnya nir-maknawi. Namun justru dalam ketiadaan makna itulah ungkapan ini secara artifisial merupakan metafora (dalam filosofis Jawa) tentang  penggambaran perilaku seseorang yang menyimpang dari pakem / nilai-nilai etis kewajaran umum. Seseorang yng berada atau memberadakan diri dalam suatu kondisi, dimana ia menjadi bukan sejatinya dirinya lagi; melainkan ia merasa atau menumbuhkan rasa menjadi superior dari keadaan bathin yang sebenarnya inferior.

Adalah Petruk, tokoh dalam jagad pewayangan, merupakan simbol seorang hamba / rakyat jelata. Tetapi bukan sembarang hamba, karena ia adalah pengejawantahan dari seorang ”dewa” untuk menjaga keselarasan dan keserasian umat manusia. Maka Petruk adalah juga metafora seorang manusia biasa yang mengemban tugas rohaniah.

Ketika Petruk masih menjadi ”Petruk”, hidupnya dalam lingkaran harmoni bersama saudara-saudaranya Gareng, Bagong dan ayahnya Semar. Selaras, serasi dan seimbang antara jagad alit dirinya atau mikro-kosmos dengan jagad ageng atau makro-kosmos (dunia sekitar) seperti dalam teori kosmik-monisme yang dikupas Niel Mulder. Saat itulah ketika Petruk berada dalam ”kepetrukan” hakiki, ia mendapatkan bahagia sejati.

Tetapi entah angin apa yang bertiup; tiba-tiba suatu ketika Mas Petruk mengalami ”mobilitas vertical”. Ia tiba-tiba menjadi digdaya, sehingga merasa tidak hanya menjadi sekedar Petruk. Ia menjadi raja di desa Kerajaan Ngrancang Kencana, berjuluk : PRABU BEL GEDUWEL BEH!
Saat Petruk menjadi Prabu Bel Geduwel Beh itulah ia menjadi ”liar”. Ia lalu menganut aji mumpung. Ia lupa asal-usulnya, lupa saudara-saudaranya, tak ingat sahabat-sahabatnya. Senyampang bisa mempersulit orang, yang gampang dibuat sulit. Senyampang bisa memecat atau menggeser posisi karyawannya, ia semena-mena memecat atau memutasi karyawan yang tidak sepaham dengan dia. Senyampang tidak perlu memberi, mengapa harus memberi. Ia selalu gila hormat. Tak henti-hentinya ia mengais dan menimba kehormatan, kendati kehormatan iotu sebenarnya bukan miliknya.
Tatanan komunitasnya dijungkir-balikkan. Sosial order menjadi kacau. Tahapan-tahapan perkembangan sosial seperti yang digambarkan Thomas Hobbes menjadi tidak berlaku. Norma sosial dalam ranah publik dibuat awut-awutan seperti digambarkan Vladimir Daklin tentang ”era vagrantifikasion”.
Kala Petruk manjadi Bel Geduwel Beh itulah keselarasan mikro-kosmosnya tidak serasi lagi dengan makro-kosmosnya, sehingga ia lalu oleng, hilang kendali. Ia lekang dari jati diri. Ia EDAN!

BEL GEDUWEL BEH adalah suatu kondisi psikologis dari seseorang yang tidak dapat menjadi keseimbangan antara keselarasan diri dengan dunia / komunitas sekitar. Senyampang bisa berbuat sesuatu, ia lakukan seuatu (tak terukur). Atau sebaliknya, senyampang tidak perlu berbuat sesuatu (yang baik), ia tidak merasa risi untuk tidak berbuat sesuatu (yang baik).

Di sini terasa ada ”ambiguitas analogi”. ”Jangan sombong, jangan memegahkan diri, berlakulah rendah hati, berbuatlah baik dan saling mengasihi antar sesamamu ...” adalah nasehat Kitab Suci yang merupakan aksioma yang tak dapat ditawar oleh para penghayatNya. Itulah postulat iman. Dan postulat iman, seharusnyalah membuat garis dikotomi yang jelas : bukan ini dan bukan itu, berbuat ini dan tidak berbuat itu. Tetapi dalam penghayatannya sering seperti perilaku ”kupu-kupu kuning”; yng setelah bertelur ia terbang entah kemana, tidak merasa perlu kembali menengok telurnya lagi. Bahwa bertelur adalah kewajiban dasariah bagi kupu-kupu kuning; tetapi serentak setelah itu ia pergi, terbang meninggalkan perbuatan / tanggung jawab dasariah yang lain. 
Perilaku Petruk menjadi BEL GEDUWEL BEH adalah metafora kita. Kondisi ini bisa menjangkiti siapa saja, kapan saja dan dimana saja seperti coca cola. Masalahnya bukan pertanyaan ”mengapa” atau ”bagaimana”; tetapi dapatkah kita segera meretas sadar, mana kala perilaku menyimpang itu telah terfragmentasi dalam perilaku kita. 
Maka, marilah kita merenung :

Idealnya, hidup kita dapat seperti pohon beringin yang tumbuh di puncak bukit. Kuat, gagah dan rindang. Tetapi realitasnya tidak semua dapat menjadi pohon beringin ...
Bila demikian, jadilah saja pojhon peneduh di pinggir jalan, yang dapat menanungi mereka yang kepanasan ...
Bila tidak bisa menjadi pohon peneduh di pinggir jalan, jadillah saja belukar, tetapi belukar terbaik, yang tumbuh di tepi danau; berfungsi menahan erosi ...
Bila tidak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput; tetapi rumput terbaik, yang tumbuh untuk memperkuat tanggul pinggir jalan ...
Bila tidak mampu jdi jalan raya, jadilah saja jalan setapak; yang dapat menghantar orang lain menuju ke sumber mata air.
Tidak semua menjadi nakhoda; tentu perlu ada awak kapalnya. Bukan karena besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya martabat seseorang; tetapi apakah ia mampu berguna bagi orang lain sesuai dengan kadar atau porsi jati dirinya.
Maka jadilah saja dirimu; sebaik-baiknya dirimu sendiri ...(t.soeharyanto)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>“BEL GEDUWEL BEH!”</p>
<p>“Bel Geduwel Beh!” secara leksikal, baik akar kata maupun lingua-francanya, sebenarnya nir-maknawi. Namun justru dalam ketiadaan makna itulah ungkapan ini secara artifisial merupakan metafora (dalam filosofis Jawa) tentang  penggambaran perilaku seseorang yang menyimpang dari pakem / nilai-nilai etis kewajaran umum. Seseorang yng berada atau memberadakan diri dalam suatu kondisi, dimana ia menjadi bukan sejatinya dirinya lagi; melainkan ia merasa atau menumbuhkan rasa menjadi superior dari keadaan bathin yang sebenarnya inferior.</p>
<p>Adalah Petruk, tokoh dalam jagad pewayangan, merupakan simbol seorang hamba / rakyat jelata. Tetapi bukan sembarang hamba, karena ia adalah pengejawantahan dari seorang ”dewa” untuk menjaga keselarasan dan keserasian umat manusia. Maka Petruk adalah juga metafora seorang manusia biasa yang mengemban tugas rohaniah.</p>
<p>Ketika Petruk masih menjadi ”Petruk”, hidupnya dalam lingkaran harmoni bersama saudara-saudaranya Gareng, Bagong dan ayahnya Semar. Selaras, serasi dan seimbang antara jagad alit dirinya atau mikro-kosmos dengan jagad ageng atau makro-kosmos (dunia sekitar) seperti dalam teori kosmik-monisme yang dikupas Niel Mulder. Saat itulah ketika Petruk berada dalam ”kepetrukan” hakiki, ia mendapatkan bahagia sejati.</p>
<p>Tetapi entah angin apa yang bertiup; tiba-tiba suatu ketika Mas Petruk mengalami ”mobilitas vertical”. Ia tiba-tiba menjadi digdaya, sehingga merasa tidak hanya menjadi sekedar Petruk. Ia menjadi raja di desa Kerajaan Ngrancang Kencana, berjuluk : PRABU BEL GEDUWEL BEH!<br />
Saat Petruk menjadi Prabu Bel Geduwel Beh itulah ia menjadi ”liar”. Ia lalu menganut aji mumpung. Ia lupa asal-usulnya, lupa saudara-saudaranya, tak ingat sahabat-sahabatnya. Senyampang bisa mempersulit orang, yang gampang dibuat sulit. Senyampang bisa memecat atau menggeser posisi karyawannya, ia semena-mena memecat atau memutasi karyawan yang tidak sepaham dengan dia. Senyampang tidak perlu memberi, mengapa harus memberi. Ia selalu gila hormat. Tak henti-hentinya ia mengais dan menimba kehormatan, kendati kehormatan iotu sebenarnya bukan miliknya.<br />
Tatanan komunitasnya dijungkir-balikkan. Sosial order menjadi kacau. Tahapan-tahapan perkembangan sosial seperti yang digambarkan Thomas Hobbes menjadi tidak berlaku. Norma sosial dalam ranah publik dibuat awut-awutan seperti digambarkan Vladimir Daklin tentang ”era vagrantifikasion”.<br />
Kala Petruk manjadi Bel Geduwel Beh itulah keselarasan mikro-kosmosnya tidak serasi lagi dengan makro-kosmosnya, sehingga ia lalu oleng, hilang kendali. Ia lekang dari jati diri. Ia EDAN!</p>
<p>BEL GEDUWEL BEH adalah suatu kondisi psikologis dari seseorang yang tidak dapat menjadi keseimbangan antara keselarasan diri dengan dunia / komunitas sekitar. Senyampang bisa berbuat sesuatu, ia lakukan seuatu (tak terukur). Atau sebaliknya, senyampang tidak perlu berbuat sesuatu (yang baik), ia tidak merasa risi untuk tidak berbuat sesuatu (yang baik).</p>
<p>Di sini terasa ada ”ambiguitas analogi”. ”Jangan sombong, jangan memegahkan diri, berlakulah rendah hati, berbuatlah baik dan saling mengasihi antar sesamamu &#8230;” adalah nasehat Kitab Suci yang merupakan aksioma yang tak dapat ditawar oleh para penghayatNya. Itulah postulat iman. Dan postulat iman, seharusnyalah membuat garis dikotomi yang jelas : bukan ini dan bukan itu, berbuat ini dan tidak berbuat itu. Tetapi dalam penghayatannya sering seperti perilaku ”kupu-kupu kuning”; yng setelah bertelur ia terbang entah kemana, tidak merasa perlu kembali menengok telurnya lagi. Bahwa bertelur adalah kewajiban dasariah bagi kupu-kupu kuning; tetapi serentak setelah itu ia pergi, terbang meninggalkan perbuatan / tanggung jawab dasariah yang lain.<br />
Perilaku Petruk menjadi BEL GEDUWEL BEH adalah metafora kita. Kondisi ini bisa menjangkiti siapa saja, kapan saja dan dimana saja seperti coca cola. Masalahnya bukan pertanyaan ”mengapa” atau ”bagaimana”; tetapi dapatkah kita segera meretas sadar, mana kala perilaku menyimpang itu telah terfragmentasi dalam perilaku kita.<br />
Maka, marilah kita merenung :</p>
<p>Idealnya, hidup kita dapat seperti pohon beringin yang tumbuh di puncak bukit. Kuat, gagah dan rindang. Tetapi realitasnya tidak semua dapat menjadi pohon beringin &#8230;<br />
Bila demikian, jadilah saja pojhon peneduh di pinggir jalan, yang dapat menanungi mereka yang kepanasan &#8230;<br />
Bila tidak bisa menjadi pohon peneduh di pinggir jalan, jadillah saja belukar, tetapi belukar terbaik, yang tumbuh di tepi danau; berfungsi menahan erosi &#8230;<br />
Bila tidak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput; tetapi rumput terbaik, yang tumbuh untuk memperkuat tanggul pinggir jalan &#8230;<br />
Bila tidak mampu jdi jalan raya, jadilah saja jalan setapak; yang dapat menghantar orang lain menuju ke sumber mata air.<br />
Tidak semua menjadi nakhoda; tentu perlu ada awak kapalnya. Bukan karena besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya martabat seseorang; tetapi apakah ia mampu berguna bagi orang lain sesuai dengan kadar atau porsi jati dirinya.<br />
Maka jadilah saja dirimu; sebaik-baiknya dirimu sendiri &#8230;(t.soeharyanto)
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>

