HARAPANKU category
November 15th, 2008
Sabtu pagi hari sebelum berangkat senam pagi bersama Ibu-ibu kompleks di lapangan Mesjid Baiturrakhim, aku sempatkan membuka Republika Online untuk membaca “hikmah” menurutku tulisan Pa Fauzi Menuju Akhirat ini dapat melengkapi tulisanku Bekal Menuju Akhirat, karena kini disaat usia hampir menjelang senja memang sudah saatnya harus selalu ingat dan ingat akan akhirat.. jangan sampai terlambat … banyak sahabatku yang kembali ke kampung akhirat dalam usia yang muda… sehingga mengingatkanku untuk selalu siap setiap saat….
Menuju akhirat
By Fauzan Al-Anshari
Republika On line
Jumat, 07 November 2008 pukul 16:46:00
Tak satu pun manusia akan lepas dari kematian, karena kematian adalah salah satu ‘terminal’ di tengah perjalanan yang harus kita lewati, bahkan menjadi tempat berhenti sejenak. Bagaikan orang bernaung di bawah rindangnya pohon di tengah perjalanan untuk melepas lelah barang sebentar, lalu melanjutkan perjalanannya kembali sampai ke tujuannya, yakni ‘’ibu kandungnya'’. Sebagaimana dituturkan dalam Alquran, ‘’….adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka ‘ibunya’ adalah Hawiyah. Tahukah kami, apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas'’. (QS.101:8-11).
Setiap perjalan pasti membutuhkan perbekalan. Apalagi perjalanan yang sangat jauh, tentunya bekalnya pun harus cukup supaya selamat sampai tujuan. Bedanya, perjalanan ke akhirat bekalnya tidak berbentuk materi, melainkan amal perbuatan. Setiap orang mempunyai catatan amalnya masing-masing yang dibukukan dalam sebuah kitab,'’ ….di sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dizalimi'’.
(QS.23:62). Yakni kitab tempat para malaikat menuliskan perbuatan-perbuatan seseorang dengan sejujur-jujurnya tanpa pilih kasih, biarpun buruk atau baik, yang akan dibacakan pada hari kiamat. Ketika setiap manusia menghadap Allah satu per satu, maka dikatakan padanya: ‘’Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh (para malaikat) mencatat apa saja yang telah kamu kerjakan'’. (QS.45:29).
Bagi orang-orang yang timbangan kebaikannya ringan, artinya perbuatan dosanya lebih besar, maka ‘’ibu kandungnya'’ (baca: tempat kembalinya) adalah Hawiyah. Sedangkan orang-orang yang timbangan kebaikannya berat, ‘’…maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan'’. (QS.101.7) Siapakah mereka itu? Bagi seorang muslim, dunia bukanlah tujuan. Dunia adalah ibu tiri. Dunia bukanlah ibu yang melahirkan kita. Kita adalah anak-anak akhirat. Akhirat adalah ‘’ibu kandung'’ kita. Akhirat adalah ‘’ibu'’ kita yang sebenarnya. Yang selalu menjadi tempat kita mencurahkan cinta dan penuh harap. Di sanalah kita menuju dan tempat berakhir. Di sanalah peluk cium yang kita dambakan selama ini. Dunia adalah tempat kita ditempa, dididik, dan diuji. Siapa yang lulus semua ujian itu, merekalah yang berhak diterima di pangkuan ‘’ibu'’ di surga. Tapi, siapa pun mereka yang gagal, tempatnya adalah di Hawiyah, yakni api neraka yang bergejolak. Semoga kita semua diterima sebagai anak-anak akhirat yang berbakti pada ‘’ibu'’ dan mendapat tempat yang memuaskan. - ah
November 12th, 2008
Pada saat membaca artikel jujur itu langgeng kiriman email dari laila kurniasari di millis cfbe, hati ini tergerak bahwa tulisan ini harus masuk dalam webku .. tulisan-tulisan Pa Sonny Wibisono ini selalu dikirim oleh laila di millis cfbe.. dan seperti biasa tulisan beliau simple tetapi menyentuh hati sehingga lailapun selalu ingin sharing kepada anggota millis..
“Jujur Itu Langgeng”
“Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana.”
– Anonim
HAMDAN adalah sebuah anomali. Dia pergi ke kantor hanya dengan mengendarai sepeda motor yang sudah butut. Helmnya pun bau apak. Jaketnya kumal. Padahal Hamdan merupakan orang penting di sebuahperusahaan. Dialah yang menjadi pengatur keluar masuknya barang yang menjadi komoditas perusahaannya. Hamdan berkali-kali mengatakan dirinya hanya berusaha keras menjalankan pekerjaan dengan baik.
Sehari-hari dia mencatat dengan penuh ketelitian, agar jangan sampaisatu barang pun lenyap ataupun nyelonong ke tempat lain.
Ketelitian menjadi panglima. Kejujuran menjadi napas dalam hidupnya. Berkali-kali dia berperang dengan sikapnya itu. Tatkala keluarganya membutuhkan uang berlebih untuk sebuah keperluan, dia hanya mengandalkan tabungannya yang tak seberapa. Begitu selalu. Hamdanpun dicap sebagai orang aneh.
Hingga pada suatu saat ketika Hamdan telah pensiun, mantan koleganya menghubungi- nya meminta bertemu. Ternyata koleganya memintanya mengelola pendistribusian barang-barang di perusahaannya. Tentu dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan, yang tidak didapatkan oleh Hamdan di perusahaan sebelumnya. Sang kolega pun berbaik hati
dengan menawarkan kerjasama kepada Hamdan bila berminat, untuk menaruh saham di perusahaan tersebut. Hamdan tak membuang kesempatan emas ini. Jadi Hamdan tidak hanya mengelola, tapi juga diberi kesempatan memiliki perusahaan yang ditanganinya sekarang.
Rupanya, inilah buah kejujuran yang dimiliki Hamdan. Sang kolega mempercayai penuh kejujuran yang dimiliki Hamdan, ditambah dengan kecakapannya mengelola pendistribusian barang.
Kejujuran, dan juga kisah Hamdan sendiri, memang menjadi sesuatu yang aneh dan langka. Tak usah mencari jauh-jauh contohnya. Bacalah koran, tonton tivi, atau dengarlah radio. Setiap hari kita jumpai kasus korupsi, perampokan, penipuan, pencurian, tindak kekerasan, perselingkuhan, atau kasus kriminal lainnya. Kesemuanya bermuara
pada satu hal, bahwa komitmen mengenai kejujuran tidak terpenuhi.
Jujur tak hanya diartikan secara harfiah sebagai ‘berkata benar, mengakui atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran’. Tapi juga dalam pengertian yang lebih luas, tidak berbohong, tidak menipu, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak berbuat tindak kekerasan, tidak melakukan selingkuh, dan sejumlah `tidak’ lainnya, merupakan bentuk lain dari sebuah kejujuran.
Oleh karena itu kejujuran membutuhkan komitmen untuk pemenuhan kejujurannya. Dalam jenis pekerjaan apapun, nilai sebuah kejujuran tak bisa ditawar-tawar lagi. Anda harus memegang teguh pada komitmen dimanapun Anda berada dan bekerja. Tidak boleh berbohong. Tidak boleh menipu. Tidak boleh merekayasa. Bagaimana Anda mau dikatakan jujur, jika hendak menjadi caleg saja harus menyogok. Bagaimana Anda
mau dikatakan jujur, jika Anda membohongi publik dengan aksi menggoreng saham, yang nilai sahamnya memang tidak sebanding dengan nilai buku perusahaan.
Lantas, bagaimana agar nilai-nilai kejujuran dapat terus berkembang? Kejujuran sesungguhnya dapat ditularkan. Sama seperti virus, ia dapat menyebar dengan cepat. Suri tauladan yang baik selalu berawal dari atas. Dalam psikologi, dikenal prinsip modelling. Artinya murid akan dengan mudah meniru perilaku tertentu melalui proses peniruan terhadap model. Siapa saja dapat bertindak sebagai model. Pemimpin,
orangtua, guru, orang-orang yang mempunyai banyak penggagum, ataupun orang-orang yang mempunyai pengikut. Jadi, bila pemimpinnya tidak jujur, sulit mengharapkan rakyatnya juga berlaku jujur. Jika seorang pejabat korupsi, jangan salahkan kalau bawahannya ikut-ikutan korupsi. Dan, jangan juga salahkan sang anak yang malas belajar
karena asik menonton televisi, sementara sang anak melihat ibunya asik menonton sinetron.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kejujuran sulit diterapkan dalam dunia bisnis dan politik. Pertimbangan moral dikesampingkan dan lebih mengedepankan nafsu untuk mencari untung atau kekuasaan semata. Benarkah demikian? Sebaliknya. Padahal, kejujuran akan membawa pada kelanggengan. Kepercayaan, lebih-lebih dalam dunia
bisnis, membutuhkan prasyarat bernama karakter. Karakter dibangun dari dua hal utama; kejujuran dan tanggung jawab. Kejujuran berbicara tentang moralitas dan etika. Sedangkan tanggung jawab berhubungan dengan kompetensi. Di negeri ini, banyak pebisnis yang sukses dan politisi yang dikenang hingga kini karena kejujuran yang
dianutnya selama ini. Nilai-nilai yang mereka anut untuk: tidak ngembat sana-sini, tidak ngemplang, tidak sikut kanan-kiri, tidak merekayasa nilai proyek, tidak mengulur-ulur penjualan saham, atau tidak ngadalin mitra kerjanya.
Oleh karena itu kejujuran membutuhkan pengorbanan untuk menunda kesenangan. Meniti dan mencapai hasil sesuai dengan usaha tanpa harus memark-up atau menipu. Apa enaknya, bila kesuksesan diraih dengan begitu cepat, tetapi dengan mengorbankan nilai-nilai kejujuran. Hidup tak tentram, tidurpun tak nyenyak.
Kejujuran memerlukan kesadaran untuk paham akan batas kelemahan diri sendiri dan tidak sungkan untuk mengaku salah. Dan juga sebaliknya, bersedia memaafkan kelemahan orang lain. Kejujuran juga berarti sadar bila tidak mampu dalam mengerjakan sesuatu. Jika kemampuan Anda mengangkat beban hanya lima kilo, jangan memaksakan Anda mengangkat hingga mencapai sepuluh kilo. Jika harga saham sesungguhnya hanya seribu perak, jangan dipaksakan dijual lima ribu perak.
Kejujuran merupakan salah satu kunci untuk mengatasi masalah hidup berbangsa dan bermasyarakat di negeri ini. Seperti pepatah lama Belanda yang mengatakan, eerlijk duurt ‘t langst, jujur itu langgeng. Percayalah. (030908)
Sumber: Jujur Itu Langgeng oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
November 3rd, 2008
Di jewer adalah kata yang sangat sederhana yang berarti daun telinga di dilipat ke kiri dan ke kanan.. untuk anak-anak kecil sangat takut untuk di jewer karena berarti telah melakukan suatu kesalahan dan mendapat hukuman atas kesalahan tersebut… tetapi bagi orang dewasa kata di jewer merupakan suatu bentuk kasih sayang untuk memberikan motivasi melaksanakan suatu pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi.
Kata-kata “awas tak jewer kamu kalau sampai akhir tahun ini proposal disertasi belum selesai, dewi harus punya time schedule agar tugas tersebut selesai” kata-kata tersebut memacu semangatku memulai lagi membuat judul-judul disertasi untuk diajukan kepada promotorku Prof Made dan co promotor Prof Imam setelah judulku di tolak 6 bulan yang lalu.
Dari kata di jewer itulah aku menghubungi sahabatku satu kelompok di kelas A Pa Nanto yang paling hebat di kelas… Saat kutanya ternyata beliau juga belum mengajukan judul malah belum mengganti co promotor Pa Pascalis alm.. Pa Nanto minta aku menghubungi Prof Billy karena ingin minta izin agar Pa Billy mau mengganti Pa Pascalis.. kuhubungi teman-teman untuk cari hp Prof Billy ternyata sulit juga Pa Herly yang bekerja di Mabes AU tempat Prof Billy dulu bekerja memberikan nomor yang salah… namun akhirnya aku bisa menghubungi Prof Billy untuk makan siang di Grand Melia sesuai permintaan Pa Nanto.
Dari penuturan Prof Billy akhirnya aku dan Pa Nanto sepakat harus membuat beberapa alternatif judul disertasi, masing-masing judul dengan 4 variable, dan masing variable harus di lampirkan copy teori dari 7 text book yang mendukung variable tersebut.. jadi dari 4 variable harus menyiapkan 28 text book jadi kalau membuat 3 alternatif saja dengan minimal 6 variabel harus menyiapkan 42 copy teori/text book… oow..oow… harus berburu 42 text book oh my God…
Pa Nanto berulang ulang berkata bahwa yang sulit adalah memulai kemudian mengajakku untuk saling mendukung dan kami seperti anak kecil berjabatan tangan berjanji untuk bersama-sama memulai dan saling sharing.
Alhamdulillah saat kutelepon sahabat-sahabatku para pencinta buku mereka bersedia untuk meminjamkan buku-buku nya untuk kucopy teori-teori yang mendukung variable yang kupilih… hidupku kini dikelilingi oleh buku-buku tebal .. namun karena kata-kata di jewer tadi walaupun dikelilingi buku tebal-tebal aku tetap riang dan bersemangat… maklum takut di jewer …
Sebagai penyeimbang kutelepon teman-teman yang proposal disertasinya sudah disetujui oleh Promotor ternyata Pa Nurhasim sudah mengumpulkan 60 buah text book untuk mendukung variablenya.. Pa Ketut A sedang menunggu konfirmasi Prof Made tahap uji coba peneltian..
Menurut Pa Ketut A perjalananku masih panjang sekali.. maklum tahap awal adalah pengajuan judul dulu itupun memakan waktu lama karena Pa Harley, Pa Alifuddin, Pa Syahban, Pa Haposan, Pa Endhi dll judulnya disetujui setelah 10 kali bolak balik ke Prof Made… bila judul disetujui lalu membuat proposal disertasi itupun bolak balik juga, menurut Pa Syahban dan Pa Alifuddin dari Makassar mereka bolak balik ke jakarta 6 kali baru proposalnya disetujui. Mereka sekarang sedang menunggu waktu antrian untuk seminar proposal disertasi…
Setelah seminar proposal disetujui, mengajukan susunan teori bila disetujui baru mengajukan penelitian uji coba.. setelah hasil penelitian uji coba disetujui kemudian mengajukan penelitian sebetulnya…bila disetujui baru melaksanakan proses penelitian sebetulnya dan setelah hasil penelitian sebetulnya disetujui dapat mendaftarkan waktu antrian untuk seminar hasil penelitian… setelah disetujuinya seminar hasil penelitian baru mendaftarkan waktu antrian untuk ujian tertutup … bila lulus ujian tertutup maka mendaftarkan kembali waktu untuk ujian terbuka…oohhh perjalanan panjang….
Pa Ketut A juga mengatakan bahwa Pa Ketut B yang telah selesai susunan teori oleh Pa Made diminta untuk menyusun dari awal lagi karena teori yang mendukung variable tidak tepat Pa Ketut A mengatakan “Dewi kumpulkan teman-teman ayo kita bertemu hari Sabtu di kantor saya, kita harus saling sharing karena rasanya berat kalau berjalan sendiri… ajakan itu kusambut positif dan aku telah menghubungi beberapa teman lain untuk memenuhi ajakan Pa Ketut.
Saat kuceritakan proses tersebut kepada yang akan menjewerku, beliau mengatakan proses tersebut akan tidak terasa dilalui apabila kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan hati yang riang. dan ikhlas… anggaplah itu bukan beban tetapi sebagai proses pembelajaran ke tahap yang lebih tinggi ..dan itu semua memerlukan endurance yang kuat…
Beliau juga berjanji akan memberikan bimbingan dari segi praktisi karena untuk penulisan disertasi tidak melulu dari segi teori dibutuhkan pula pandangan dari segi praktisi untuk melengkapi teori yang ada..
Bimbingan beliau yang ada dalam posisi “helicopter view” tentunya akan sangat bermanfaat bagiku untuk belajar dan belajar…
Alhamdulillah perjalanan hidup yang kualami dari hari ke hari menambah keyakinanku bahwa ada rencana Allah SWT yang tidak diketahui oleh manusia semenit ke depan karena kini sepertinya Allah sedang memberikanku kebahagiaan di dunia yang tidak ternilai ….Begitu banyak kemudahan yang kuperoleh… sahabat-sahabatku semua memberikan perhatian dan dukungan padahal mereka adalah orang-orang yang sibuk. .. bisa kubayangkan bagaimana beliau-beliau memilih dan membawa buku-buku yang ada di rumahnya untuk dipinjamkan kepadaku, bila tidak dengan hati yang penuh keikhlasan tentunya sulit…
Temanku Meiske yang selalu mendampingi untuk mengambil buku-buku tersebut serta berkenalan dengan beliau-beliau berkata…”Dewi teman-temanmu luar biasa mendukungmu… kamu harus selalu bersyukur bahwa ternyata persahabatan yang kamu jalin sejak muda tidak terputus silaturachimnya karena jabatan… saya melihat mereka menolongmu dengan ikhlas…”
Mungkin inilah panen yang kuperoleh yaitu apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita peroleh…maka marilah kita semua segera menanam kebaikan maka kebaikan yang akan kita panen .
Kini hari-hariku dirumah dipenuhi oleh kegiatan membaca dan membaca… setelah kubaca dan kutandai ..kuberikan kepada Burda Barida keponakanku tersayang untuk diketik… kemudian kukompulasi untuk kuedit kembali…aku harus mencicil sedikit demi sedikit bahan-bahan yang ada, agar tidak betumpuk dan merasa berat nantinya, karena aku yakin bahwa proses yang panjang membutuhkan kerja keras ..dan untuk menjaga kesehatan janganlah sesuatu dipaksakan tetapi kerjakanlah sekarang juga dimulai dari hal yang paling kecil,
“Ya Allah terima kasih dan terima kasih , puji syukur kupanjatkan kepadamu karena atas pertolongaMulah kemudahan-kemudahan ini terjadi..”
Ungkapan rasa Terima kasih dan terima kasih yang tak terhingga kepada yang akan menjewerku… karena dimulai dengan kata jewer itulah membangunkan aku dari tidur dan perasaan tenang-tenang saja… sementara argo pembayaran semester kuliah tetap berjalan menipiskan tabunganku… apabila aku bersemangat dan kerja keras tentunya dapat segera menyelesaikan program ini dan tabungan dapat digunakan untuk kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat……..
Insya Allah…..
November 3rd, 2008
Pada suatu masa, terlihat seorang wanita dengan wajah diliputi kesedihan…. Wajahnya kusut masai. Ternyata wanita tersebut baru saja mengalami kesedihan yang luar biasa, Kemudian pergilah sang wanita kepada orang bijak dengan harapan agar orang bijak itu dapat memberikan nasihat.
Kepada orang bijak sang wanita berkata “Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk memulihkan kondisi saya agar tidak bersedih hati? Sang Guru tidak tertawa mendengarkan pertanyaan tersebut tetapi dengan empathi berkata : “Carilah seseorang yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah kamu bertemu dengannya kita akan bersama-sama membuat ramuan ajaib agar kamu tidak bersedih hati lagi.”
Wanita tersebut kemudian menyusuri jalan-jalan untuk mencari seseorang yang tidak mengenal kesedihan, dan tiba di depan rumah mewah. “Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,”ucap wanita itu dalam hati
Setelah mengetuk pintu, dia bertemu dengan pemilik rumah seorang wanita pula dan berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?” Si pemilik rumah ternyata menjawab “Kamu datang ke rumah yang salah. Karena rumah ini sedang mengalami kesedihan pula anda bisa membayangkan bagaimana sedihnya hati saya karena saya baru saja kehilangan seluruh keluarga saya dalam kecelakaan., saya sedang bingung untuk menjalankan usaha yang dilimpahkan kepada saya, sementara saya kini seorang diri dalam mengarungi hidup.
Sang wanitapun menjadi terharu dengan pemilik rumah. Dan berfikir, “alangkah lebih baiknya apabila saya bersatu dengan wanita ini untuk membantu menghibur dia yang nasibnya lebih malang dari saya “
Diputuskannya untuk bersahabat dan menghibur pemilik rumah itu. Ternyata setelah dia bersama wanita pemilik rumah itu, saling bantu-membantu untuk menjalani hidup. Mereka berdua berdiskusi, saling menghibur, saling mengingatkan agar meningkatkan ketakwaan kepada Illahi, terjalinlah persahabatan yang tulus murni untuk mengikis rasa sedih dan beberapa bulan berlalu, wanita itu pun merasa bahwa sahabatnya sudah kelihatan lebih baik.
Dan sesuai dengan nasihat orang bijak, lalu ia berangkat lagi mencari orang berikutnya. Tetapi, ke mana pun dia pergi, selalu bertemu dengan kesedihan orang lain. Akhirnya, dia memutuskan harus bertanggungjawab untuk menghibur semua kesedihan orang yang dikunjunginya.
Hingga akhirnya, dia pun kembali kerumah orang bijak dan berkata ”Guru ternyata ramuan ajaib itu tidak ada, kesedihan itu akan segera sirna apabila kita selalu bersyukur bahwa kesedihan yang kita alami adalah tidak berarti bila dibandingkan kesedihan orang lain”. Sang Guru menjawab ” kamu harus banyak belajar memahami hidup karena hanya dari pengalaman yang kamu peroleh dan kamu pelajari dengan mata hati maka kamu akan memahami hidup”
PENGAJARAN CERITA INI:
Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam dukungan. Kedua belah tangannya sibuk membetulkan selimut si bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.
Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa hasil kerjanya setelah seharian berpenat-lelah. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.
Kerana cinta bukan hanya sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh romantis. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari apapun!
Pada semua kelahiran yang bersambut dengan cinta, hingga kematian dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta.
Kerana itu, tiada yang boleh kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT.
Apapun keputusan-NYA buat kita, Allah yang berbicara, yang menentukan kehidupan kita, kerana setiap sesuatu yang menyedihkan itu ada hikmah-Nya.
Persahabatan yang tulus, saling memberi, saling membantu, saling bercerita , saling mendengarkan, saling mendukung saling mengasihi akan memberikan hari-hari yang indah sehingga hari-hari akan dilalui dengan senyum keceriaan
sumber inspirasi : Buku Chicken Soup For the Women’s Soul
September 29th, 2008
Ceramah zuhur Ramadhan minggu lalu di kantor, saat ustadz Jamil Azzaini menyampaikan bahwa kita harus menulis apa yang ada di benak kita agar tulisan tersebut menjadi suatu dorongan untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat, membuatku ingin menulis kegiatan bekal menuju akhirat.
Tulisan bekal menuju akhirat ini telah ditulis satu paragraph pada 2 tahun yang lalu saat aku baru mempunyai blog pelabuhan hati…tetapi entah mengapa selalu ragu untuk melanjutkannya karena takut tulisan tersebut diartikan riya, namun begitu ustadz Jamil Azzaini menyatakan bukan riya maka aku bersemangat kembali untuk mensosialisasikan kegiatan ini, terlebih adanya peristiwa banyaknya korban pembagian zakat di Pasuruan membuat hati ini sedih…ternyata peristiwa berebutan zakat itu ada di seluruh Indonesia dan kondisinya makin parah.
Diawali tahun 1994, saat aku mulai aktif membagi sembako, zakat fitrah maupun qur’ban kepada penduduk dhuafa dilingkungan kampung Tipar, kampung Bojong, kampung gandaria…bersama-sama dengan ibu Faruk, Ibu Joko, Dotty (almh) , setiap ba’da sholat subuh di hari Sabtu dan Minggu bertugas berkeliling kampung-kampung itu mencari jompo maupun dhuafa untuk dibagikan kupon dari mesjid Al Muhajirin, pemberian kupon berjalan baik namun saat pembagian ternyata mereka saling berebut dan sifat keserakahan terlihat dari orang-orang tersebut.
Melihat hal tersebut ada perasaan sedih karena ternyata mereka hanya datang ke mesjid Al Muhajirin pada saat pembagian zakat, sembako ataupun qur’ban saja, di luar waktu itu mereka tidak pernah mendekati mesjid .. akhirnya tahun 1998 kusapa ibu-ibu tersebut dan setelah berbicara akhirnya baru diketahui bahwa mereka buta huruf …ternyata di zaman modern masih banyak orang-orang tua yang buta huruf tidak bisa menulis dan membaca satu hurufpun.. akhirnya kutawarkan mereka untuk belajar di teras rumah untuk belajar membaca dan menulis …dan dari kampung tipar sebanyak 30 ibu bersedia belajar setiap hari selasa malam dan dari kampung tipar/gandaria juga 30 ibu bersedia belajar setiap hari jum’at malam, belajar di mulai dari mengenal a,b,c, lalu ba bi bu be bo..za..zi..zu..ze..zo dan seterusnya…
Alhamdulillah dari tidak bisa membaca dan menulis sama sekali mereka sudah bisa tanda tangan, menulis nama, membaca nama jalan, membaca jurusan mikrolet dan membaca koran/majalah dengan terbata-bata… dan akhirnya 10 ibu telah lancar membaca dan menulis sementara lainnya tetap ditempat terbata-bata maklum sudah usia,… dan hingga kini di garasi rumah masih kubuka perpustakaan mini yang berisi Al Qur’an & Terjemahan , buku-buku Islam yang ringan serta majalah-majalah Islam dan umum antara lain Majalah Ummi, Annida, Al Iman, Tarbawi dll agar murid2 dan anak2nya bisa meminjam majalah untuk memperlancar pelajaran baca tulis sekaligus menambah pengetahuan Islam
Aku mulai akrab dengan ibu-ibu tersebut ternyata mereka begitu lugu, sehingga mengajar merupakan sarana yang menyenangkan maklum sangat berbeda dengan suasana kehidupan yang ada di kantor, di organisasi maupun di kampus..mengobrol dengan mereka membuat hati ini terenyuh dan tertawa karena mereka bercerita tentang kehidupannya dengan terbuka dan aksen yang lucu…setelah belajar satu tahun hubungan telah menjadi semakin dekat dengan mereka , sehingga mereka bebas menyampaikan apa saja kepadaku … dan akhirnya mereka minta agar diberikan pelajaran Iqro, belajar tajwid Al Qur’an ..subhanallah mereka yang selama ini kelihatannya hafal membaca surat yasin ternyata tidak mengenal huruf hanya hafal di luar kepala (hafal cangkem) …hebat mereka hafal karena seringnya membaca surat yasin di mesjid kampung2 mereka, aku sangat sedih mengetahui hal tersebut dan langsung kupanggil Ustadz Afdhol untuk mengajar mereka.
Rasa kasih sayang mulai muncul dan karena telah mengetahui kondisi mereka yang dapat dikatagorikan sebagai kaum dhuafa, aku mulai mengajak teman-teman kantor/Saudara- saudara/ beberapa warga yang berminat untuk menjadi donatur untuk menyalurkan zakat/infak/ shadaqah (yang semula diberikan disalurkan kepada yayasan/orang yang tidak dikenal) disalurkan kepada ibu-ibu yang bersedia dibina akhlaknya .. agar dapat memberikan beras sebagai motivasi atas kegigihan mereka belajar dengan persyaratan 6 kali hadir mendapat 4 liter beras.
Tahun 2004 mesjid Baiturrachim yang lebih dekat dengan rumahku dibandingkan mesjid Al Muhajirin telah selesai dibangun dan belum ada kegiatan pembinaan di mesjid tersebut, agar lebih efektif murid-murid yang selama ini belajar di teras rumah dipindahkan ke mesjid Baiturrachim dan digabung menjadi satu kelas . Program dilaksanakan setiap selasa malam ba’da Isya sampai jam 21.30 dan program diberi nama ‘’Bekal Menuju Akhirat” karena pelajaran ditambah dengan membina akhlak mereka melalui tausyiah untuk menanamkan jiwa tolong menolong, tidak serakah, dan mengerti manfaat agama untuk kehidupan sosial sehari-hari agar agama tidak hanya dijadikan kegiatan rutin/seremonial tetapi juga menyentuh kehidupan… serta sebagai sarana mencari bekal menuju akhirat bagi yang mengajar maupun bagi yang diajarkan
Program kegiatan “mengislamkan orang islam dan bekal menuju akhirat’’ di mesjid Baiturrakhim berjalan atas bantuan teman2 Ibu Nursolichin, Ibu Umar Bakri, Ibu Istijono dan Ibu Mukhtar Zarkasy yang mempunyai satu visi dan waktu (mengingat tugas2ku di kantor dan di kampus juga padat) ..dan dengan dilandasi dengan kedekatan hati dan kasih sayang melihat kondisi ekonomi dan keseriusan murid-murid belajar, kami juga sepakat memberikan motivasi lagi kepada mereka yaitu 30 kali kehadiran mendapat hadiah mukena yang bagus, 60 kali kehadiran mendapat hadiah sajadah yang bagus… kami merasa bahagia/bersyukur bila melihat mereka menggunakan mukena dan sajadah yang bagus untuk sholat Isya sebelum belajar atau sholat Ied dengan mukena dan sajadah yang sama di lapangan Mesjid Baiturrachim karena kebahagiaan kami adalah apabila dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada orang yang kita bina.
Pada tahun 2006 murid berkembang menjadi 182 ibu, penambahan tersebut menyebabkan aku yang bekerja (karena teman-teman ibu rumah tangga) harus giat mencari donatur untuk membiayai program ‘’bekal menuju akhirat’’ karena program tersebut membutuhkan biaya besar ditambah cita-cita kami untuk meningkatkan taraf kehidupan ibu-ibu murid kami, uang yang dikumpulkan tiap bulan tidak cukup membeli beras yang meningkat mahal.. dilain pihak banyak murid yang terjerat rentenir sehingga pemberian beras diturunkan dengan hadiah berupa tabungan yaitu 6 kali kehadiran mendapat uang rp. 15.000,- (sekali hadir Rp. 2.500/seharga teh botol) serta mengajar murid-murid agar menabung sehingga apabila mereka membutuhkan uang dapat mengambil hadiah tabungan maupun tabungannya dan tidak meminjam ke rentenir lagi yang memberlakukan bunga yang tinggi, kemudian uang hadiah tabungan + tabungan murid + ZIS dari teman-teman digunakan untuk pinjaman modal bergulir (tanpa bunga dan biaya administrasi).
Walaupun murid sudah banyak , setiap pemberian kupon sembako/Fitrah/Qurban di mesjid Baiturrachim aku tidak bosan selalu mengajak ibu-ibu yang berebut minta kupon menjadi murid untuk belajar akhlak, iqro, al Qur’an serta mengerti terjemahan Al Qur’an, dengan ajakan tersebut di tahun 2007 murid bertambah menjadi 239 murid, karena ada perasaan sedih melihat mereka berebutan ..rasanya kita sebagai umat Islam yang diberikan rizki yang cukup dari Allah tidak peduli atas nasib mereka..lebih baik kerja keras mencari dana untuk membiayai mereka daripada mereka tetap berakhlak tidak terpuji…juga hati ini merasa sedih melihat mesjid yang telah susah payah dibangun dengan biaya tinggi hanya ramai dan ‘’hidup” di bulan Ramadhan saja sementara di bulan-bulain lain sunyi dari kegiatan untuk kaum dhuafa… sementara pada zaman Rasulullah SAW Mesjid merupakan pusat kegiatan…
Alhamdulillah dengan kasih sayang, kajian/terjemahan Al Qur’an serta tausyiah Sabar Syukur dan Senyum yang kami tebarkan dengan cara sederhana, mereka yang semula mengaji karena kupon/beras/tabungan kini mulai tertarik mencari ilmu, kini mereka begitu bersemangat hadir untuk belajar serta mengatakan bahwa belum ada mesjid yang mengajarkan Iqro untuk Ibu-ibu serta terjemahan Al Qur’an untuk kehidupan sehari-hari sehingga mereka ingin belajar dengan baik, dan bagi murid kegiatan mesjid Baiturrachim ternyata sangat berarti karena mereka dapat bersilaturrachim antar kampung yaitu Kampung Bojong, Gandaria, Tipar dan pinggir kali yang ternyata ada pertautan Saudara atau teman …selain itu mereka menganggap kegiatan Selasa malam sebagai sebagai kegiatan peduli atas masyarakat lingkungan, bahasa betawinya ibu-ibu gedongan bergaul dengan ibu-ibu kampung.
Bertahun-tahun kami menyelenggarakan kegiatan pengajian Bekal menuju akhirat tanpa bantuan uang mesjid serupiah pun karena mesjid mengira bahwa program kegiatan pembinaan tersebut dibiayai oleh kantorku karena memang aku tidak pernah minta biaya dari mesjid hanya meminta beberapa paket sembako ke kantor untuk diberikan kepada murid2 karena memang salah satu kegiatan binrohis kantor menjelang iedul fitri adalah memberikan paket2 sembako kepada kaum dhuafa, kujelaskan bahwa biaya kegiatan adalah dari ZIS teman-teman dekat yang peduli atas pembinaan kaum dhuafa, dan karena sudah mulai kesulitan mencari biaya yang sudah semakin besar akhirnya pada bulan Oktober 2007 minta bantuan mesjid.
Alhamdulillah mesjid Baiturrachim memberikan biaya operasional sebesar Rp. 3 juta per bulan, maka uang tersebut digunakan untuk membiayai 12 guru yang mengajar murid sehingga aku kini hanya memberi tausyiah dan mengawasi saja tidak pusing lagi mengajar murid yang banyak serta digunakan juga untuk menambah pemberian pinjaman modal bergulir.
Sementara sumbangan dari teman yang non muslim yang ikut simpati atas kegiatanku digunakan untuk membantu bayaran sekolah anak-anak murid2 yang mempunyai prestasi juara Ke 1 s/d 3, juga untuk biaya masuk sekolah, seragam, dll anak asuh yang ingin sekolah tetapi orang tuanya tidak mampu (baru satu anak asuh yaitu anak murid yang suaminya tukang rongsokkan ) … kedepan apabila ada tambahan sumbangan lagi akan kutingkatkan bayaran sekolah bagi yang berprestasi 10 besar… serta tambahan anak asuh.
Administrasi anak asuh, bayaran sekolah, absen murid/guru, hadiah buku Iqro, Juz’amma, mukena, sajadah, kaca mata baca, debet tabungan, kredit modal bergulir yang pembayarannya tiap minggu ditangani oleh Burda keponakanku… dialah yang menangani urusan administrasi yang lumayan rumit tersebut seusai pulang kerja dengan tekun dan rapi ..Burda mengatakan dia ingin mendapat juga bekal menuju akhirat, oleh karena dia tidak bisa membantu dengan uang hanya bisa membantu tenaga yaitu pelaksanaan administrasi yang baik agar pertanggungjawaban jelas ..
Burdalah Inspirator dan Motivatorku …karena bila sedang cape, kesal dan malas, setan sering mengangguku dengan tidak mau mengurus lagi program ini …untuk apa mengurus dhuafa dengan susah payah ..tetapi Burda selalu mengingatkan ..Tante ingat Bekal menuju akhirat…ayo kita cari bekal menuju akhirat , tante memimpin, membiayai dan mencari uang sementara saya administrasi nya …kapan lagi waktu kita mencari bekal menuju akhirat.. sebelum terlambat tante… Mendengar kata-katanya aku kembali bersemangat lagi karena merasa malu bila Burda yang masih muda dan sangat rumit mengerjakan administrasi begitu semangat sementara aku hanya memberi tausyiah, membiayai dan mencari dana kadang-kadang suka mengeluh…
Alhamdulillah jumlah murid kini sudah 282 murid dan Allah rupanya meridhoi program kegiatan Selasa malam, di kantorku hujan dan banjir tetapi di daerah rumah hujan tidak pernah turun setiap hari Selasa sehingga murid bisa datang ke mesjid, tidak berbecek ria maklumlah rumah2 mereka agak jauh , jarak yang terdekat radius 1 km ..(data di absensi ternyata di musim hujan setiap selasa malam kehadiran full tidak ada absen).. itulah keajaiban …demikian pula Allah selalu memberikan rezeki kepada mereka.. karena pernah tidak mempunyai dana sama sekali untuk membeli sembako di bulan ramadhan (sebagai hadiah belajar satu tahun penuh)…lalu kusisihkan sebagian Tabungan/THR, ajaib dalam tempo seminggu dengan mudahnya mendapat ZIS dari teman-teman dekat untuk membiayai pemberian sembako kepada mereka …
Dan yang lebih ajaib lagi adalah murid murid yang kehidupannya sudah membaik tidak menjadi dhuafa lagi kini menyerahkan hadiah/sembako/ zakat fitrah/daging qur’ban bagian yang selalu mereka peroleh kepada Tetangga/saudara mereka yang tidak mampu ..bahkan ada beberapa murid tabungannya cukup besar… saat ditanya mengapa mereka tidak menabung di Bank mereka mengatakan menabung di pengajian lebih bermanfaat karena uangnya dapat menolong/digunakan sebagai pinjaman modal bergulir teman-teman yang lain ..alhamdulilllah tujuan yang kucita-citakan telah tercapai yaitu beberapa penerima zakat kini telah menjadi pemberi zakat namun demikian mungkin sebagian kecil diantara murid masih ada juga yang belum berhati lurus dan bersih.
Pembagian sembako/zakat fitrah di mesjid Baiturrakhim kini tidak seperti peristiwa pasuruan, mereka kini sangat tertib yaitu melaksanakan sholat ashar berjamaah terlebih dahulu kemudian mendoakan para pemberi ZIS lalu menunggu giliran pembagian per kelompok …karena setiap kelompok telah ada ketua kelompoknya…dan rumahku yang selalu dikepung para pencari kupon kini sangat mudah menjawabnya …yaitu dengan mengajak mereka mengaji… ayo kita mengaji di mesjid setiap selasa malam nanti ibu-ibu akan mendapatkan rezeki dari Allah dengan tidak perlu mencari-cari kupon dan berebutan.. ibu-ibu malah akan diperhatikan serta mendapatkan kemudahan-kemudahan …
Memang program kegiatan Bekal Menuju Akhirat ini masih harus disempurnakan lagi, namun paling tidak, program ini merupakan salah satu usaha/sarana untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat , sehingga harus berupaya semaksimal mungkin agar program berkembang dan berkembang lagi serta dapat disosialisasikan di daerah-daerah lain…karena di usia kita yang hampir senja ini sudah tidak waktunya lagi mengumpulkan bekal popularitas di dunia, usaha lebih baik di prioritaskan mencari bekal menuju akhirat dan…. tulisan ini bukan bermaksud riya, tetapi alangkah indahnya apabila kita sebagai kaum yang diberikan kecukupan rezeki memberikan hak-hak mereka dari rezeki yang diterima dari Allah SWT dengan cara membina para dhuafa dan memakmurkan mesjid diluar bulan Ramadhan serta menganggap bahwa kaum jompo maupun dhuafa yang ada di lingkungan kita adalah menjadi bagian yang sederajad sebagai sesama muslim.
Cita-citaku yang akan datang,.. prioritas adalah memberikan pinjaman kepada murid2 tidak hanya untuk modal bergulir saja tetapi juga untuk kebutuhan lain yang bukan konsumtif… karena aku sangat terenyuh atas cerita murid2 yang telah tidak menjadi dhuafa lagi yang mengatakan bahwa banyak murid-murid yang terjerat rentenir karena butuh uang dalam waktu dekat misal untuk berobat, bayar uang sekolah, memberikan orang tua dll .. sementara tabungannya tidak cukup dan sarannya agar pengajian membantu murid dari jeratan rentenir sangat kuperhatikan .. alhamdulillah ZIS untuk sembako diperoleh cukup besar, sehingga dapat disisihkan untuk membantu agar murid2 yang terkena rentenir meminjam kepada pengajian (yang tanpa bunga dan biaya administrasi) untuk kemudian segera melunasi pinjaman dari rentenir dan membayar kepada pengajian setiap minggu tanpa was-was mendengar umpatan2 kotor dari rentenir..
Cita-cita kedua adalah membuka pelajaran iqro, belajar tajwid dan kajian Al Qur’an untuk Bapak-bapak karena banyak suami-suami murid2 maupun tukang ojek yang mangkal di pangkalan lingkungan rumah minta dibuka kelas untuk Bapak-bapak… dan yang ketiga mencoba membina anak-anak dari murid2 yang telah lulus SMA tetapi tidak bisa bekerja untuk ikut seleksi agar lulus memperoleh pendidikan wira usaha gratis di Klaten milik Ustadz Jamil Azzaini …Insya Allah…
|